Tag Archives: Cerpen

Cerpen: Hidupku dalam Fiksi

Cerpen ini ditulis pertama kali pada tahun 2007. Waktu itu, aku lagi labil-labilnya…. Sebagai anak muda penuh semangat yang tidak tersalurkan (apasih), ditambah lingkungan yang kurang baik pada jamannya, aku membayangkan bagaimana jadinya kalau aku adalah seorang yang humoris (a.k.a garing), ceria, rada tolol, ladies man, tidak tahu malu, dll, dan melakukan perkenalan. Jadilah cerpen ini dibuat dengan image itu, sehingga cerpen ini jadinya tidak punya inti masalah, unsur pendidikan, dan pesan moral.

Ditambah lagi, ada bagian cerpen ini yang sangat tidak mungkin terjadi padaku: aku punya teman cewek yang cakep. Itu sangat…

IMPOSSIBRU!!!

Oke silahkan dibaca.


by: Penguin

Hancur.

Yah, itulah pikiran pertama yang terlintas dikepalaku ketika aku berdiri disini. Rambut pendek tegak berdiri, pakai kemeja putih, celana abu-abu, sambil memandangi sebuah bangunan yang tiang-tiangnya telah hancur dan roboh.

Aku lagi dimana sih? Rasanya sekolahku nggak sebobrok ini deh terakhir kali aku lihat. Apa gempa sudah merusaknya permanen? Begitu rusak sampai aku tidak bisa menemukan pintu depannya?

Oh, aku lupa. Sekolahku memang tidak punya pintu depan.

Tapi serusak ini? Sedih sekali rasanya melihat sekolah tempatku menghabiskan 80 persen hidup setiap hari dalam kubangan tugas latihan dan praktek hancur lebur seperti ini. Ini sudah tidak seperti sekolahku lagi.

Aku melihat sebuah papan tergantung didepan pagar. Aku angkat papan itu, dan kubaca baik-baik, berharap melihat petunjuk kemana aku harus pergi sekarang. Agak kotor sih, jadi kubersihkan dulu.

Tunggu dulu…. Sesuatu yang tertulis disini tidak wajar….

Aku perhatikan lagi. Tidak…. Tidak mungkin…. Bagaimana bisa? Rasanya musik horor mengalun lembut ditelingaku saat membaca tulisannya lagi….

Disitu tertulis: “BENGKEL MAS UDIN”. Read more »

Revisi Cerpen: Circus is Over

Ini cerpen yang dua tahun lalu aku post di Kemudian.com. Setelah melalui pembahasan cukup panjang (di Kners), baru hari ini aku sempat merevisi tulisanku.

Terima kasih terutama pada Miss Worm, yang sudah sangat membantu merevisi EYD tulisan ini, dan menjadi salah satu bagian yang paling banyak dievisi :D

Enjoy!


by: Agung “Penguin” Utama Putra

Aku heran, kenapa Ayah tertawa? Apa sih yang lucu?

Hari ini adalah salah satu dari sekian banyak hari, di mana aku pulang sambil menangis. Seperti biasanya, aku menangis disebabkan hal yang sama. Ada ribuan alasan di dunia ini yang bisa membuatku menangis, tetapi hanya masalah ini yang mengikutiku ke mana-mana. Rekan sekolah. Ya, rekan sekolah bagiku adalah masalah.

Aku sering pindah sekolah karena pekerjaan Ayah mengharuskan kami berdua berpindah-pindah tepat tinggal. Dalam delapan tahun, kami sudah pindah rumah empat kali. Aku benci ini. Tetapi, karena tidak ada ibu yang mau menemaniku tinggal di satu tempat, aku terpaksa mengikutinya. Aneh juga sebenarnya, karena Ayah seakan terus dilempar-lempar oleh tempatnya bekerja. Read more »

Tribute to My Classmate – Di Saat Terakhir

{cerpen ini juga diposting di http://www.kemudian.com/node/241690 }

Jam di handphone-ku telah menunjukan pukul setengah empat sore, tapi aku masih belum keluar dari ruangan kelas. Tidak hanya diriku, tapi beberapa rekan sekelasku masih berada di dalam. Banyak sekali yang mereka lakukan, seperti membereskan posisi kursi dan meja, mematikan lampu dan AC, dan beberapa mengobrol. Aku sendiri sibuk membersihkan loker yang telah tiga tahun kupakai. Read more »

Switch to our mobile site