Aku udah sebulan gak posting ya? Oke deh, sekarang ku posting beberapa pendapatku tentang kepanitiaan yang baru kemaren kuhadiri.
Panitia ini dibentuk oleh beberapa orang yang ingin membantu sekelompok besar untuk mendapatkan salah satu “simbol” kelompok mereka. Tanpa keinginan untuk pamer, pamrih, hanya keinginan untuk berguna.
Yah…. sayangnya, setelah beberapa lama berjalan, panitia ini terkotori oleh sekumpulan “mayor” yang “mewakili suara sebagian besar”. Pengaruh cukup kuat dari mereka sehingga kepanitiaan jadi berubah haluan karena kumpulan “mayor” ini berhasil mempengaruhi ketua mereka.
Bisa ditebak kelanjutannya? Gini deh, karena panitia ini ingin hasil yang mereka capai bisa diterima oleh semua anggota mereka menjadi fleksibel dan menerima berbagai pendapat, kritik, dll. Tapi ternyata pendapatku benar: kalau semua orang di seluruh dunia ini fleksibel, gak akan ada tugas yang selesai. Ini terbukti, panitia ini akhirnya jadi kalabakan karena kebanyakan menerima kritik, dan anehnya, sedikit yang memberi saran.
Mencari kesalahan itu memang gampang ya -__-
Kalau kulihat, tidak ada yang salah dengan membuka diri terhadap pendapat. Yang salah adalah, membuka diri terhadap pendapat tanpa memberi filter seperti kode etik untuk berpendapat. Tanpa filter, ocehan tidak berguna akan masuk tak tersaring seperti ampas teh yang tidak disaring; mengendap dan menumpuk, saat sedikit teraduk langsung terangkat.
Yah… satu pelajaran buat kasus ini: tegas. Fleksibel boleh, tapi batasi dan beri filter. Kalau mau memberikan kontribusi, bukan berarti dengan melakukan semua yang diinginkan kelompok. Kalau maunya eksistensi, ya sana sok eksis sendiri.
Hmm hmm hmm……..
Recent Comments