Tag Archives: abu abu

Kalau Kita Berbeda

Hanya ilustrasi.

Katanya, perbedaan itu bagus. Kenyataannya, orang-orang yang “berbeda” adalah orang-orang yang pertama dikucilkan. Aku tidak bermaksud menceritakan tentang “tampil beda”. “Tampil beda” itu biasa. Yang tidak biasa adalah jadi berbeda. Berpikiran lain dari yang lain. Read more »

Ignorance is Bliss

Pertama, terima kasih kepada orang yang sudah mau jadi teman ku, walaupun hanya untuk waktu kurang dari 2 bulan, dan kemudian merasa lebih baik tidak pernah kenal dengan yang namanya (atau aliasnya) Penguin.

Bener deh. Setelah hampir sebulan bisa berteman, lalu karena salah ngomong dikit aja, tersinggung setengah mati dan jadi sangat sensitif dengan Read more »

Life is Never Flat!

Wiauw…. Rumah Penguin bener-bener nyaris vakum. Gimana yah, aku belakangan ini kurang punya ide. Ada banyak opini yang pengen dikeluarin, tapi karena sadar diri nggak banyak yang mau baca (apalagi kasusnya kontroversial) jadinya males membahas panjang-panjang.

Tapi sekarang ada satu bahasan yang pengen ku posting. Ini tentang perbedaan cara pandang tentang kesenangan: antara mahasiswa study oriented dan seneng-seneng oriented. Read more »

Kepanitiaan – Tentang Kontribusi atau Eksistensi

Aku udah sebulan gak posting ya? Oke deh, sekarang ku posting beberapa pendapatku tentang kepanitiaan yang baru kemaren kuhadiri.

Panitia ini dibentuk oleh beberapa orang yang ingin membantu sekelompok besar untuk mendapatkan salah satu “simbol” kelompok mereka. Tanpa keinginan untuk pamer, pamrih, hanya keinginan untuk berguna.

Yah…. sayangnya, setelah beberapa lama berjalan, panitia ini terkotori oleh sekumpulan “mayor” yang “mewakili suara sebagian besar”. Pengaruh cukup kuat dari mereka sehingga kepanitiaan jadi berubah haluan karena kumpulan “mayor” ini berhasil mempengaruhi ketua mereka.

Bisa ditebak kelanjutannya? Gini deh, karena panitia ini ingin hasil yang mereka capai bisa diterima oleh semua anggota mereka menjadi fleksibel dan menerima berbagai pendapat, kritik, dll. Tapi ternyata pendapatku benar: kalau semua orang di seluruh dunia ini fleksibel, gak akan ada tugas yang selesai. Ini terbukti, panitia ini akhirnya jadi kalabakan karena kebanyakan menerima kritik, dan anehnya, sedikit yang memberi saran.

Mencari kesalahan itu memang gampang ya -__-

Kalau kulihat, tidak ada yang salah dengan membuka diri terhadap pendapat. Yang salah adalah, membuka diri terhadap pendapat tanpa memberi filter seperti kode etik untuk berpendapat. Tanpa filter, ocehan tidak berguna akan masuk tak tersaring seperti ampas teh yang tidak disaring; mengendap dan menumpuk, saat sedikit teraduk langsung terangkat.

Yah… satu pelajaran buat kasus ini: tegas. Fleksibel boleh, tapi batasi dan beri filter. Kalau mau memberikan kontribusi, bukan berarti dengan melakukan semua yang diinginkan kelompok. Kalau maunya eksistensi, ya sana sok eksis sendiri.

Hmm hmm hmm……..

Aneh, Tetapi Tetap Dianggap Hebat

Judul merujuk kepada Almarhum Mbah Maridjan, “juru kunci” Gunung Merapi yang sekarang telah meninggal dalam keadaan (katanya) bersujud dan (katanya) berserah diri pada Yang Maha Kuasa.

Masih heran aku, kenapa kok sudah jelas-jelas menyekutukan Tuhan, Animisme, tapi masih juga mbah Maridjan dipuja-puja seperti “The Captain Who Never Leaves His Ship”. Dianggap telah berjiwa besar, berani, dan…. umm…. lupa aku apa lagi ya? itu lah.

Kematiannya menimbulkan banyak reaksi. Yang paling lucu yang ingin aku tertawakan keras-keras, spekulasi bagaimana mbah Maridjan bisa sampai meninggal di gunung yang “kunci”-nya dia pegang. Ada yang bilang karena beliau sedang apes salah menafsirkan pertanda, ada yang bilang beliau memang tahu dan bertahan karena merasa lebih baik mati disana, dan yang paling lucu, sebuah komentar dari pambaca berita tentang mbah Maridjan di situs Kompas menulis: Read more »

Switch to our mobile site