Ku bukan superstar, kaya dan terkenal,
Ku bukan saudagar, yang punya banyak kapal,
Ku bukan bangsawan, ku bukan priyayi,
Ku hanyalah orang yang ingin dicintai…..
Tau lagu Project Pop “Bukan Superstar”, kan? Lirik lagunya lucu, menghibur, dan video klipnya juga bikin ketawa. Lagu yang ini diciptakan oleh personil Project Pop (lupa yang mana) ini sekarang lagi banyak diputar di tv dan di radio.
Saat pertama dengar lagu ini, jujur gw juga mau ketawa. Kasian banget ya orangnya, bisanya cuma berandai-andai, tapi kenyataannya gak ada apa-apanya. Tapi makin sering gw dengar lagu ini, makin berpikirlah gw. Sebenarnya lirik lagu “Bukan Superstar” ini memiliki makna yang dalam, yang sering terjadi di sekitar kita sekarang.
Sering kan kita lihat banyak remaja yang meniru-niru gaya idolanya, apakah itu artis, aktor, apapun deh pokoknya (tapi jelas bukan monyet). Ada yang rambutnya dibentuk-bentuk pakai segenggam minyak rambut, diwarnai pula, pakai kaos lengan buntung, atau celana di pinggul. Semuanya ditiru demi untuk mengidentifikasikan dirinya dengan sang idola. Bahkan mungkin sampai cara jalan dan bicara.
Ada juga sih bagusnya. Kalau sang idola itu kebetulan memiliki perangai baik, tentu menirunya tidak akan menjadi masalah besar. Tapi kenyatannya? Yang ditiru justru yang menyimpang dari nilai-nilai yang berlaku.
Bukannya idealis, tapi gw sendiri kurang suka meniru gaya dari seorang idola, siapapun itu. Lain ceritanya berfoto dengan cara tertentu supaya mirip (yang notabane sering gw lakukan), meniru gaya seseorang cenderung akan merusak prilaku asli kita. Jangan lupa, ada kemungkinan prilaku kita sekarang sebenarnya lebih baik daripada prilaku idola kita.
Berangkat dari pendapat tadi, gw coba mendalami makna dari lirik tadi, walau mungkin penciptanya sendiri tidak memperhatikan ini. Mohon diperhatikan, gw TIDAK berusaha untuk MEMPROMOSIKAN apapun. Ini adalah pendapat netral.
Di bait awal, lagu ini mengandaikan kita apabila menjadi seorang yang terkenal, yang diidolakan banyak orang. Betapa bahwa kita bisa dengan mudahnya mendapatkan segala sesuatu. Di bagian chorus, kita kembali disadarkan bahwa kita bukan siapa-siapa, tapi kita berharap ada yang menerima kita apa adanya. Sebenarnya, INI JUGA SALAH!
Ya, kita mungkin bukan siapa-siapa. Kita cuma orang biasa yang serba biasa. Tapi kalau cuma berharap ada orang yang menerima kita apa adanya, sama juga dengan kita menunggu nomor undian, walaupun dapat belum tentu sesuai yang diharapkan. Seharusnya kita BERUSAHA agar orang lain bisa menerima kita apa adanya, bukan cuma berharap.
Berandai-andai ada baiknya. Coba bayangkan kalau kita tidak punya idola untuk jadi target pengandaian, pastinya kita juga tidak punya target untuk menjadi lebih baik. Tapi itu BUKAN BERARTI kita harus mengidentifikasikan diri dengan sang idola, melainkan lebih kepada meniru cara hidup sang idola tanpa merusak cara hidup kita sendiri.
Sekarang kita masuk ke bagian reff. Isinya seperti memberitahu bahwa kita bukan siapa-siapa, dan kita cuma berharap untuk ada yang mencintai. Kalau kita perdalam maksudnya, sebenarnya itu bisa dimaksudkan sebagai pernyataan “Kami adalah diri kami sendiri, bukan superstar, saudagar, bangsawan, atay priyayi. Kami adalah diri kami sendiri dan kami bangga karena itu”. Munkin gw mau tambahin sedikit saja, sebuah kalimat: “Ada yang keberatan? Harap minggir”
Narsis boleh saja. Tapi kita sebaiknya tetap berpegang teguh pada prinsip kita sendiri, bukan terpengaruh orang lain. Tidak ada untungnya buat kita kalau kita cuma meniru yang telah ada. Mana yang lebih baik: Jadi versi kedua dari orang lain, atau menjadi versi terbaik dari kita sendiri? Ketahuilah, sesungguhnya diri kita masing-masing ini unik. Tidak ada orang lain yang bisa mendekati, apalagi menjadi, seperti diri kita sekarang.

Recent Comments