Kutipan: Diskriminasi Kecantikan

Sekitar 2 hari yang lalu, aku kebetulan lagi buka-buka Twitter dan nemuin sebuah artikel menarik yang di-share oleh M. Rivai. Tulisan ini dibuat di Tumblr oleh user dengan nickname Nameless Order (apa ini juga mas Vai? entah deh). Tulisan aslinya bisa dibuka di alamat http://namelessorder.tumblr.com/post/768663131/diskriminasi-kecantikan


Beberapa hari yang lalu ada seorang perempuan yang bertanya kepada saya, pertanyaan yang sangat naif dan lugas, “Kenapa ya cowok-cowok jaman sekarang sukanya sama cewek chinese?”

Sekadar pengumuman bagi pembaca yang over-sensitif dan paranoid: Tulisan ini tidak bermaksud mendiskriminasi suatu ras tertentu.

Kemudian saya jawab pertanyaan perempuan itu dengan jawaban yang standar, “Nggak semuanya seperti itu kok. Saya lebih suka perempuan Indonesia.”

“Iya, tapi kebanyakan begitu. Misalnya mantan pacarku. Selingkuh sama cewek chinese,” ucapnya.

Kemudian saya baru mengerti landasan emosional yang menyebabkan ia berpikiran seperti itu. Ini bukan isu ras seperti yang sempat menjadi tragedi pada kerusuhan 1998, tapi secara umum ini adalah masalah definisi “kecantikan” yang diskriminatif.  Saya katakan kepadanya, cantik itu adalah politik.

Kecantikan itu tidak pernah ada secara objektif, karena semua itu tergantung persepsi orang yang mengamatinya. Dan seperti yang kita tahu, persepsi atau selera adalah sesuatu yang bisa dan mudah dipengaruhi. Iklan krim pemutih kulit di TV merupakan bentuk politik kecantikan, begitu juga dengan beberapa aktris dan penyanyi asal Korea yang akhir-akhir ini sedang booming, komik, game, dan animasi Jepang yang merajalela sejak lama, adalah faktor-faktor yang mempengaruhi boomingnya “kecantikan oriental” belakangan ini. Persepsi tentang mana yang cantik dan mana yang tidak, tentu saja dibentuk oleh pihak-pihak yang punya kepentingan. Para penjual kosmetik, budayawan, kampanye pariwisata, atau pemerintah.

Saya tidak percaya bahwa selera dan definisi kecantikan itu dibawa oleh manusia sejak lahir. Sejak kapan kamu berpikir kalau lelaki yang berhidung mancung itu tampan? Sejak kapan kamu berpikir bahwa perempuan yang berambut lurus itu cantik? Saya yakin, itu tidak muncul dengan sendirinya, melainkan pengaruh dari penyebaran budaya dan media. Namun saya tidak mengatakan bahwa pengaruh-pengaruh itu salah. Sebagai makhluk sosial yang hidup di era komunikasi, pengaruh-pengaruh tersebut menerjang kita setiap hari, bahkan setiap detik. Wajar kalau sesekali kita terpengaruh oleh selera orang banyak, asalkan kita tidak menjadikan itu sebagai tolak ukur yang absolut, dan kita menyadari apa serta siapa yang telah mempengaruhi kita. Sederhananya: Jangan memaksakan dirimu berkulit putih kalau kamu terlahir berkulit hitam, karena kalau kamu melakukan itu, kamu telah menjadi korban persepsi massa. Memangnya siapa yang berhak memutuskan kecantikan itu apa? Adakah? Ya ada, setiap orang, setiap individu berhak memiliki definisinya masing-masing tentang kecantikan. Dan tak ada seorang pun, atau satu media pun, yang bisa memaksa kamu menjadi cantik sesuai definisi mereka.

Lagipula, saya katakan pada perempuan itu, booming kecantikan oriental belum segitunya mendominasi. Lihat saja, selebritis berwajah bule masih laku muncul di televisi. Dan di sisi lain, kita selalu punya sub-kultur underground, tempat kita bisa hidup di kala kita menjadi muak dengan selera massa.

“Nggak usah khawatir. Cepat atau lambat trend itu akan berganti. Kalau nggak berganti juga, ya kamu ganti aja. Siapa bilang kamu nggak boleh ngebentuk persepsi tandingan?” ucap saya kepadanya.

Cantik itu politik.


Memang dunia trend adalah dunia yang kejam…. :-SS . Saya jadi teringat sebuah kalimat dari guru TI saya: “Kalau kamu tidak suka dengan sebuah mode, tenang saja, nanti juga berubah. Kalau kamu suka dengan sebuah mode, tenang saja, nanti juga berubah.”

Hmf.

  1. hahhahah
    bner bgt tu,,
    cntikk tu hruz bsa berpolitik,,bkn hanya dari fisik..
    slm…

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>