
Hanya ilustrasi.
Katanya, perbedaan itu bagus. Kenyataannya, orang-orang yang “berbeda” adalah orang-orang yang pertama dikucilkan. Aku tidak bermaksud menceritakan tentang “tampil beda”. “Tampil beda” itu biasa. Yang tidak biasa adalah jadi berbeda. Berpikiran lain dari yang lain.
Aku sering mengikuti berbagai diskusi online (dengan memposisikan diri sebagai penonton). Dari yang sering kulihat, lebih banyak orang yang lebih menyukai posisi “orang baik” dalam diskusi. Posisi yang lebih diterima orang banyak, lebih bermoral, lebih bagus. Begitu muncul orang yang mengemukakan pendapat yang berbeda, yang bentrok dengan pendapat yang “bermoral” dan “dapat diterima”, pendapat itu langsung dihujat habis-habisan oleh orang-orang seforum.
Memang sebenarnya, sebuah pemikiran yang “berbeda” mungkin bisa mendapat penerimaan di kelompok lain. Mungkin kelompok yang memiliki alur pikiran yang sesuai. Tapi untuk apa mengemukakan sebuah pendapat yang sama dalam sebuah forum? Sebuah forum, sebuah diskusi, membutuhkan minimal sebuah pemikiran yang berbeda untuk bisa berjalan. Tanpa ada perbedaan pendapat, tidak ada diskusi yang sehat.
Sayang sekali, jadi “berbeda” berarti mengambil risiko tidak disukai orang lain. Dan dalam diskusi, mengambil risiko pendapatnya dicela habis atau tidak didengar sama sekali.

Sering terjadi.
Berbagai alasan dikemukakan oleh mereka yang tidak mau mendengar pendapat berbeda: tidak cocok, kurang bermoral, si pemberi pendapat terlalu kasar, terlalu tajam, tidak logis, dll. Padahal, bahkan sebuah pendapat yang tidak logis perlu untuk diperhatikan. Apa yang membuat pendapat itu muncul? Bercanda? Maka pikirkan lah apa yang salah dalam diskusi itu sehingga bisa menjadi bahan lelucon. Cari perhatian? Pikirkan kenapa sampai mereka perlu mencari perhatian. Sekali lagi, sebuah pendapat tidak logis pun perlu diperhatikan.


0 Comments.