IPA vs IPS

Di hampir semua sekolah tingkat SMA di Indonesa, saat siswa sudah kelas 11 (kelas 2 SMA), mereka diharuskan memilih antara 2 jurusan: IPA (Ilmu Pengetahuan Alam) atau IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial). Sejauh ini, sistem penyeleksiannya adalah melalui minat, apakah siswa tersebut lebih berminat pada yang satu daripada yang lain. Minat ini ditanyakan saat siswa masih kelas 10 (kelas 1 SMA) oleh guru BK (Bimbingan Konseling). Kalau misalnya siswa tersebut ternyata tidak memiliki minat khusus, dia akan diseleksi melalui nilai. Kalau nilainya cukup tinggi, dia dimasukan ke IPA, sisanya IPS.

Perhatikan yang barusan gw tulis: Kalau nilainya cukup tinggi, dia dimasukan ke IPA, sisanya IPS! Kok bisa IPS jadi sisanya? Itulah yang gw lihat dilingkungan gw. Ada siswa yang rajin, ia dimasukan ke IPA. Kemudian ada siswa yang tukang cabut dari sekolah, dimasukan ke IPS. Kenapa begitu? Nah, ini yang gw mau bahas.

Tidak perlu dari nilai, minat siswa saja sudah 90 % ingin IPA. Banyak siswa (dan paling sering orang tua) menganggap IPA lebih tinggi derajatnya daripada IPS. Alasannya karena lebih elit, lebih gampang kuliahnya, lebih gampang cari kerja, dll. Diakui, lebih banyak anak IPA yang meraih prestasi di berbagai tempat. Sebut saja OSN salah satunya. Bahkan medali dicabang Ekonomi (yang notabane adalah IPS) beberapa direbut oleh anak IPA.

Yah, ini masalah kemampuan, sih. Gw juga nggak bisa salahin dia. Tapi benarkah IPA lebih pintar dari IPS? TIDAK!

IPA mengutamakan logika, sedangkan IPS mengutamakan hafalan. Tidak semua, tapi dominasi. Itu berarti, setiap bidang memiliki spesialisasinya sendiri. Tapi kalau misalnya ada beberapa dari siswa cabang tertentu menguasai cabang lainnya, itu bagus. Kesimupulannya, setiap cabang memiliki kriteria sendiri dalam pemilihannya.

Tapi coba lihat cara penyeleksian yang dilakukan sekarang. Hampir semua anak yang tidak mampu untuk belajar dengan tekun malah dilempar ke IPS. Menurut saya, IPS justru memerlukan ketekunan lebih tinggi daripada IPA, karena IPS mengharuskan siswanya untuk mengenal lingkungan sosialnya, yang hampir semuanya tidak terdapat didalm buku. Tapi ternyata kenyataan bertindak lain. Untuk diketahui, ada guru gw di sekolah, saat mengetahui ada anak yang berkasus, dia selalu bilang: “Memang tuh, anak IPS!”.

Ketahuilah wahai bu guru, anda saya kutuk setiap bicara seperti itu.

Kriteria yang selama ini terus dipenuhi hanya kriteria IPA. Rajin, tekun, cerdas, paham ,dll. Kriteria IPS tidak pernah benar-benar dipenuhi oleh siswanya. Apanya yang orang sosial kalau dia terus-terusan cabut, meniggalkan tanggung jawab yang sebenarnya diajarkan oleh IPS? Ketahuilah, IPS bukan cabang buangan. Para pemimpin yang benar-benar berhasil tidak datang dari cabang IPA, tapi IPS.

Sebenarnya, penyebab IPA menjadi lebih baik daripada IPS ya itu tadi: Kriteria IPA yang selalu dipenuhi, dan IPS menjadi buangan. Cara penyeleksian ini sudah berlangsung bertahun-tahun sebelum kita lahir. Sekarang, setelah kita diizinkan untuk memilih cabang ilmu, saran yang kita terima adalah saran dari orang-orang kolot yang ketinggalan jaman yang menganggap IPA lebih baik dari IPS. Huh!

Gw sendiri ingin bekerja dibidang komputer. Cabang IPA atau IPS bukan masalah. Tapi orang tua tidak mengizinkan waktu itu. Mereka mau gw masuk IPA, jadi dokter. Ya sudah, berhubung gw waktu itu belum ada tujuan hidup yang pasti, gw ikuti. Belakangan gw menyesal. Gw perhatikan IPA tidak secerdas yang disebut-sebut, sementara IPS tetap menjadi cabang buangan. Gimana dong?

Cuma ada satu cara: kita lebih baik tidak bergantung pada sistem dan nasehat orang lain. Sistem yang sudah rusak dari dulu dan saran dari orang- orang hasil sistem yang rusak tidak ada gunanya. Lebih baik kita mendiskusikan jalan hidup dengan orang yang memang dibidang ilmu khusus ini (sosiologi misalnya). Konklusinya, tidak masalah IPA atau IPS, asal keinginan itu berasal dari hati dan tempat kita memenuhi keinginan itu sudah baik sistemnya.

Sistem pendidikan kita yang masih kurang baik (maunya sih gw bilang bobrok, tapi kasar banget ya?) terus membimbing kita kearah yang salah. Kita diajarkan untuk menjadi arogan dengan masuk IPA dan menyombongkan diri bahwa kita lebih pintar dari IPS. Semua ini terjadi secara kasat mata, tidak terlihat begitu saja. Tapi gw yakin para pemerhati masyarakat pasti menyadari kesalahan sistem pendidikan kita. Bagi mereka yang belum sadar, semoga tulisan ini bisa menyadarkan mereka.

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>