Rasanya dulu aku pernah nulis tentang fans di Rumah Penguin tempo doeloe, yang kebetulan artikelnya musnah dimakan migrasi
. Ah, peduli amat deh. Toh tema dan latar belakan penulisan kali ini berbeda dengan waktu itu. Sekarang, aku ingin menulis tentang Fans, Antifans, dan “pihak ketiga”. Sebagai contoh kasus, saya pilih Grup Anti-Vierrania dan Vierrania di Facebook. Link pada gambar.
Btw, Vierra dan Vierrania, tolong jangan tersinggung dengan gambar disebelah kiri. Itu murni hanya untuk memakai logo yang dipakai mereka
Oke… jadi apa yang perlu dibahas? Pertama, dan yang paling utama sekali, marilah kita ucapkan puji syukur… walah… bukan itu…. Pertama, kalau ada yang memperhatikan, para fans hampir pasti selalu membela sang idola apapun yang terjadi, apapun yang dilakukan sang idola. Mereka akan selalu memuji-muji apapun yang dilakukan sang idola. Dalam contoh kasus, Vierrania selalu dan pasti selalu membela sang idola mereka. Pertanyaannya, sampai kapan?
Sepuluh tahun aku memperhatikan, band-band, aktris aktor, dan berbagai jenis pekerjaan di dunia entertainment selalu berganti-ganti. Aku ingat kalau dulu sekitar tahun-tahun aku SMP, Peterpan sedang digandrungi. Belum lagi ada band-band lain seperti Dewa, Padi, Beras (halah), dll. Masing-masing memiliki segudang fans pada masa kejayaan mereka. Para anggota fans kemudian selalu menghadiri (atau sekedar menonton di televisi) apabila idola mereka sedang naik panggung.
Tapi sekarang, kemana suara para fans itu? Seiring tenggelamnya para selebritis dengan pendatang-pendatang baru, para kelompok fans juga hilang entah kemana.
Nah, padahal kita sudah tahu kalau selebritis itu pasti akan hilang timbul. Mereka bela selebriti-selebriti itu sekarang, bersumpah akan jadi fans setia sampai mati, tapi saat muncul kelompok baru, band baru, idola baru, mereka lupa pernah bersumpah. Sayangnya, fenomena alam yang luar biasa ini masih tetap terjadi dan mungkin tidak akan mati, seperti kelompok Vierrania.
Diluar kelompok fans maniak seperti itu, pasti muncul pasangannya juga: Anti-Fans. Saat Vierra mulai naik daun, kelompok Vierrania terbentuk, bersamaan dengan munculnya gerakan Anti-Vierrania (aduh bahasamu lagi Penguin…). Mereka kelompok yang akan selalu menghina, melecehkan, dan memandang rendah sang artis, Vierra dalam contohku. Tidak peduli ada prestasi apapun, mereka akan tetap mencela.
Jelas, fans dan antifans, Vierrania dan Anti-Vierrania, akan selalu berlawanan. Tapi memang budaya kita masih belum sebaik budaya fans dan anti-fans di negara lain. Disini, di negara kita ini, di tempat yang katanya menerima perbedaan, ternyata malah berpikir subjektif dan hanya membela apa yang mereka suka. Parahnya, menurut mereka pendapat mereka lah yang objektif!
Lalu bagaimana status orang-orang yang memang berpikir objektif? Orang-orang yang akan mengatakan “itu jelek!” dan “itu bagus!” atau “Lumayan” tidak peduli band apapun, mau Vierra atau bukan? Disini letak masalahnya. Orang-orang sepertiku, yang memang kurang suka dengan gaya Vierra diatas panggung, langsung dikatagorikan sebagai anti-fans! Huh!
Seorang yang memakai nama Facebook Muhammad Hanif pernah masuk ke grup Anti Vierrania dan disana ia mengupayakan agar Anti Vierrania jangan terlalu kasar kalau mencela. Gambar logo Anti Vierrania juga terlalu kasar (lihat gambar di atas tadi). Akibatnya? Dia diserang habis-habisan oleh anggota Anti Vierrania dengan bahasa-bahasa “indah” yang bisa membuat orang tuli jadi mendengar
Dengan begini, ia langsung dikategorikan sebagai anggota Vierrania, fans, yang hanya mau rusuh
Huh.
Aku sendiri punya pengalaman tidak enak dengan para fans. Baru beberapa hari yang lalu aku menulis beberapa kejelekan tentang Gita Gutawa di frup Facebook Gita Lovers. Yah… salah aku juga sih, kenapa juga mesti nulis disitu… tapi mereka sendiri bikin thread untuk membahasnya, kok! Berarti mereka yang ngundang, kan? Selain itu, tidak ada satu pun bahasa kasar yang terketik waktu itu, tapi apa akibatnya? YM ku di bom dengan nama-nama hewan
Dulu pernah kubilang di Rumah Penguin yang dulu, kalau aku keluar dari forum Gita Lover karena aku merasa tidak ada gunanya ngefans, cuma menambah pikiran saja. Balasan komentar dari salah satu anggota Gita Lover yang muncul buatku cukup menggelikan. Dia bilang aku tolol, goblok, tidak tahu mana yang baik dan jelek. Dia bilang dia fans pada Gita karena Gita suaranya bagus, orangnya baik, pintar, dan memberinya inspirasi. Oke, ini orang kayaknya maniak. Tapi kayaknya dia sengaja tidak menulis “karena cantik” agar aku tidak bisa membalas dengan “itu cuma fisik”. Yah… aku hargai pendapat dia… tapi yang aku tidak suka, dengan segera dia menyimpulkan bahwa aku benci dengan Gita Gutawa. Woi
!!!! Aku gak pernah bilang gitu!
Huh… inilah nasib orang-orang nonblok. Aku gak heran kalau Pak Moh. Hatta dulu membuat gerakan Non-Blok dan nyaris tidak memiliki pengaruh sama sekali….
Jadi ini artikel tentang apa sih? Terserah mau menyimpulkan apa. Aku cuma pengen bilang, hati-hati dengan sumpah, kata-kata, mau diketik atau diucapkan. Apapun yang kita sukai atau tidak sukai, trend pasti berganti. Dan jangan pernah menganggap orang-orang yang netral sebagai salah satu kelompok, tidak punya pendirian, apalagi bermuka dua! Dunia ini tidak terbagi atas hitam-putih, baik-buruk, fans-antifans, kawan….



sepertinya …^^