Baru nonton Batman – The Dark Knight kemaren. Telat sih, tapi ya mau gimana lagi, gw lebih suka nonton di tivi rumah pake kaset dvd daripada di bioskop. Alasannya sederhana. Dirumah gw bisa nonton sambil tiduran, minum tiga kaleng coca-cola, makan popcorn yang bisa ditambah, trus yang paling enak, filmnya bisa distop dulu kalau lagi mau kebelakang. Bioskop mana bisa…
Jadi, sekarang gw mau membahas film Batman ini.
Pertama, gw mau tekankan terlebih dulu bahwa Batman karakter hero yang paling gw suka. Dia tidak punya kemampuan super, tapi punya otak + uang lebih yang dipakai dijalan yang tepat. Tapi ada juga sebenarnya sisi negatif Batman: Dia membuat dirinya sendiri ikut diburu.
Baguskah ini? Yah, kalau dilihat dari sudut pandang Batman, benar. Gimana caranya percaya dengan para aparat kalau yang bermasalah itu aparat sendiri. Tapi rasanya tidak benar juga kalau dia terus menghindari para polisi. Kalau kita mau memberantas pelanggaran hukum didalam badan hukum, tidak bisa hanya dengan satu orang bertopeng tanpa pendukung yang benar-benar mengenalnya. Siapa yang akan percaya dengan orang bertopeng yang cuma keluar malam hari? Setidaknya itulah yang gw pikirin sebelum nonton film ini.
Dalam film ini, terlihat bahwa orang yang begitu baik, jujur, adil dan tidak menutup dirinya dari publik seperti Harvey Dent bisa terjerumus hanya karena bujukan orang lain (Joker). Kalau dipikir, apabila kita sudah sangat dipercaya menjadi pelindung sesuatu, godaan untuk mengkhianati kepercayaan itu akan lebih besar. Ingat kata-kata Paman Ben pada Peter Parker di film Spiderman: “Seiring kekuatan besar, akan datang tanggung jawab yang besar”, yang pasti akan bertambah sulit melakukannya.
Batman kebalikannya. Tidak ada yang percaya padanya, setidaknya masyarakat umum Gotham. Dia lebih leluasa untuk melakukan apapun demi untuk mendapatkan sesuatu. Kalau misalkan Harvey Dent harus tetap mengikuti prosedur hukum yang berlaku, Batman tidak punya prosedur apapun.
Jadi lebih bagus mana? Dengan prosedur atau tanpa prosedur? Gw tetap bilang lebih baik dengan prosedur, asalkan prosedur itu dijalankan dengan baik oleh orang-orang yang benar-benar bertanggung jawab. Akibat prosedur tidak benarlah akan muncul yang seperti Batman, orang yang melakukan anarki untuk menegakkan keadilan yang seharusnya dilakukan secara baik-baik.
Pembahasan lain, seperti kebanyakan film superhero, Batman tidak melakukan pembunuhan jika bisa dihindari, sejahat apapun lawannya. Nah, kalau menurut gw ini KURANG TEPAT! Dunia lebih baik tanpa orang-orang seperti mereka. Kalau seandainya orang-orang gila seperti itu tetap hidup, tidak ada jaminan mereka tidak akan mengulanginya lagi. Tapi seperti kata Clark Kent dalam film seri Smallville: “Bukan kita yang menentukan itu”. Weleh… bener juga sih…
Yah, opini kali ini tidak terlalu banyak sih. Intinya cuma satu sebenarnya: “Gw baru nonton Batman”. He he he… Tapi memang karakter Batman patut diacungi jempol. Kemampuan manusia biasanya tidak menghalanginya untuk tetap mengakkan keadilan. Ya sih, kekayaannya yang banyak sudah termasuk kemampuan luar biasa, tapi bukannya Bill Gates juga sekaya itu? Tapi ternyata Bill Gates tidak jadi Batman…

Recent Comments