Tribute to My Classmate – Di Saat Terakhir

{cerpen ini juga diposting di http://www.kemudian.com/node/241690 }

Jam di handphone-ku telah menunjukan pukul setengah empat sore, tapi aku masih belum keluar dari ruangan kelas. Tidak hanya diriku, tapi beberapa rekan sekelasku masih berada di dalam. Banyak sekali yang mereka lakukan, seperti membereskan posisi kursi dan meja, mematikan lampu dan AC, dan beberapa mengobrol. Aku sendiri sibuk membersihkan loker yang telah tiga tahun kupakai.

Ini adalah hari terakhir kami berada di kelas ini. Yah… tidak benar-benar terakhir, tapi hari terakhir kami belajar di kelas ini secara formal. Sudah tidak ada lagi guru yang akan mengajar kami secara formal di ruangan ini. Mereka semua, dimulai dari guru Matematika hingga Fisika, telah mengucapkan doa-doa dan harapan-harapan mereka pada kami.

Tentu saja, ada acara foto-foto.

Sekarang, sebenarnya sudah tidak ada lagi yang perlu kami lakukan di sini. Tetapi, kami masih menikmati saat-saat terakhir kami sebagai penghuni kelas ini. Bagi siswa lain, mungkin hari terakhir ini sama saja dengan hari terakhir setiap semesternya, tapi tidak bagi kami. Kami, setelah melalui seleksi ketat yang mencakup ujian tertulis dan wawancara, dikelompokkan dalam satu kelas, kelas berstandar Internasional.

Aku ingat, masih cukup jelas, saat-saat menjelang seleksi tertulis tiga tahun lalu. Saat itu aku lupa membawa papan alas. Karena rumahku dekat, aku pulang untuk mengambilnya. Seorang temanku ikut karena ia ingin tahu rumahku.

Pada saat aku masuk ke dalam kamar untuk mengambil papan alas, aku mendengar gonggongan anjing. Aku segera berlari keluar karena takut terjadi apa-apa. Diluar, aku melihat tiga ekor anjing yang biasa berkumpul di depan teras rumah sedang mengonggong ke arah lain. Aku cari temanku, tapi tidak kutemukan. Ternyata, ia sedang bersembunyi di rumah tetangga sebelah, ketakutan karena dikejar oleh anjing-anjing tadi.

“Eh! Kok anjing kamu nggak dirantai?” katanya kesal diperjalanan kembali ke sekolah.

“Anjing siapa? Itu bukan peliharaan keluargaku, kok! Cuma bapakku sering ngasih mereka makan.”

“Kenapa?”

“Ya tahu lah… perlu juga kita punya perlindungan dari orang-orang yang berniat tidak baik.”

“Terus kenapa aku digonggongin?”

Aku menatapnya heran. “Kamu nggak tahu? tampangmu kan tampang buron!!”

Aku tersenyum sendiri mengingat ekspresi temanku waktu itu.

Aku memasukkan kuas-kuas, cat air, dan beberapa kertas dobel folio ke dalam tas. Tumpukan kertas folio ini dulu kujual di kelas ini. Maklum, karena kelas kami berada di lantai tiga, banyak dari kami yang merasa malas untuk turun kalau hanya perlu membeli kertas dan bolpoin. Melihat peluang itu, aku membeli beberapa rim kertas dobel folio dan lusinan bolpoin untuk dijual.

Sebenarnya, ide itu tidak orisinil dari kepalaku. Waktu itu, seorang temanku menjual gorengan buatan ibunya di kelas. Setiap hari dagangannya laku keras, karena seperti yang kusebut tadi, banyak dari kami yang merasa malas naik-turun tangga. Aku sendiri menyukai risolesnya, yang selain murah juga sangat enak. Sayangnya, temanku itu berhenti menjualnya waktu kami kelas dua, dan seorang temanku yang lain menggantikan posisinya sebagai pedagang makanan.

Aku pernah bertanya kenapa dia berhenti berjualan. Dia bilang, dengan sangat jujur dan sebenarnya agak menusuk, “Habis rugi terus sih! Banyak yang nggak bayar!”. Aku berpikir, ya pasti saja. Kalau kita berjualan mengandalkan kejujuran pelanggan, maka keuntungan hampir pasti kalah banyak dengan kerugian. Aku membandingkan dengan kantin kejujuran di sekolah ini, yang juga hampir tidak pernah untung setiap bulannya.

Hmmm… bagaimanapun juga, banyak sekali orang-orang potensi bisnis yang kutemukan di kelas ini.

Aku menutup resleting tas ranselku dan berjalan keluar. Aku ingat, tiga tahun lalu keadaan kelas ini sangat berbeda. Tidak ada AC, tidak ada loker, tidak ada karpet, dan tidak ada rak sepatu. Semua fasilitas itu baru dilengkapi setelah dua bulan kami belajar disini. Maklum, kelas kami adalah kelas Internasional perdana di sekolah ini. Jadi belum ada persiapan dari tahun-tahun sebelumnya.

“Pak, nanti kelas ini akan dilengkapi apa saja?” tanya salah satu orang tua murid saat pertemuan.

“Oh, banyak!” kata kepala sekolahku. “Nanti kita akan melengkapi dengan karpet, rak sepatu, AC, bla bla bla bla bla bla” yang sangat panjang dan terasa seakan tidak akan terealisasi.

Dalam hati aku bertanya, bagaimana dengan guru-gurunya?

Kami tahu, guru-guru tidak semuanya mau mengajar disini. Baru saja guru Fisika-ku mengatakan “Banyak guru yang takut mengajar di kelas ini, takut kalah pintar dengan siswanya!”. Tetapi, kami tidak langsung merasa senang, apalagi setelah beliau melanjutkan “Padahal, bagi ibu siswa disini tidak sehebat itu.”

Ha ha. Pujian ibu sangat mengena di hati.

Teringat guru Fisika-ku, aku jadi ingat juga saat-saat terakhir dengan guru Biologi, yang juga merupakan wali kelas kami. Sebenarnya, ibu itu nyaris tidak bicara apa-apa. Ibu itu membagikan beberapa helai kertas untuk kami menuliskan pesan dan kesan. Saat itu, aku memilih untuk menundukkan kepalaku karena beliau benar-benar terlihat ingin menangis.

“Jujur,” kata beliau setelah beberapa saat diam “sudah puluhan tahun ibu mengajar, baru kali ini ibu benar-benar merasa akan kehilangan”. Beliau terus saja menyusun tumpukan kertas yang sebenarnya sudah rapi sambil melanjutkan “Bagaimanapun juga, ibu sudah jadi wali kelas kalian selama tiga tahun”.

Aku tahu banyak dari kami yang juga ingin ikut menangis, tetapi karena gengsi, tidak ada satu pun yang melakukannya.

Aku keluar dari kelas, mengambil sepatu dari rak dan mengenakannya. Diluar, beberapa teman-temanku ribut karena mau berfoto untuk kenang-kenangan. Awalnya, mereka berfoto asal-asalan. Kemudian, mereka memaksa untuk berfoto dengan pasangan di kelas. Aku hanya tertawa, mengingat aku tidak memiliki ikatan kasih bagai sepasang merpati dengan siapapun di kelas ini.

“Ayo sini! Foto-foto!”

“ee…. udah tuh!”

“Belum! Sini! Ayo sini!”

Mereka berfoto (walaupun beberapa menolak) dengan pasangan masing-masing. Satu dari mereka memang pasangan merpati yang sesungguhnya, sementara pasangan yang lain hanya untuk bahan bercandaan dan senang-senang. Salah satu dari mereka, pasangan yang dijodoh-jodohkan, sebenarnya memiliki penggemar rahasia lain. Aku tahu itu. Berat sebenarnya bagiku karena melihat seorang temanku tertawa menutupi kesedihannya berpisah dengan (mungkin) cinta pertamanya, yang tidak pernah ternyatakan.

“Tinggal beberapa hari lagi, loh.” pernah suatu saat kukatakan itu padanya.

“Kalau kamu di posisiku, apa kamu mau nyatain perasaan kamu?”

Aku diam. Karena aku tidak mungkin merasakan apa yang dirasakannya karena kami berbeda gender. Susah sekali bagiku membayangkan apa yang dirasakan wanita yang menahan perasaanya selama bertahun-tahun.

Oh, cinta SMA. Kata orang, itu hanya cinta monyet. Hmm… apakah perasaan cinta para monyet pernah disebut sebagai cinta manusia? Entah ya.

Aku sendiri memaksa seorang temanku untuk difoto bersamaku. Dia mungkin salah satu teman yang paling malas difoto. Bahkan saat aku berusaha mengangkat bahunya, ia berusaha lari. Tetapi, kami tertawa lepas setelahnya. Persahabatan itu indah, kan?

Ya, sangat indah. Tapi keretakan dalam hubungan persahabatan kami sekelas bukannya tidak pernah rusak. Malah, bisa dikatakan sering kali rusak karena masalah sepele. Aku ingat waktu kelas satu, aku mendengar ada seorang temanku tidak mau bicara dengan temannya hanya karena masalah kecil. Sebuat saja dia si Fulanah

“Ya ampun… gitu aja masa dimasalahin?” kataku heran waktu muncul kesempatan untuk membahasnya.

Temanku itu menganggukkan kepalanya “Ho oh! Gara-gara itu, si Fulanah gak mau lagi jalan bareng dengan dia!”

Aku benar-benar tercengang waktu mendengar problem yang ‘berat’ menurut si Fulanah ini. Mau tahu apa masalahnya? Ditinggal pergi oleh temannya saat sedang BAB di wc umum!

Huh, terpaksa ngegosip deh cuma untuk tahu masalah sepele ini.

Tapi, kedekatan kami juga tidak terkalahkan. Beberapa dari kami bahkan mengetahui keadaan keluarga yang lain. Yang baik-baik saja, banyak masalah, broken home, dimanjakan, bahkan yang nyaris tidak diperhatikan. Bukan hanya itu, hampir semua cerita pribadi penghuni di kelas ini diketahui.

Yah… tidak semuanya. Rahasia pribadi yang terbuka di ruangan kelas kami ini sama banyaknya dengan rahasia yang tetap tertutup di hati kami masing-masing.

Pernah ada seorang teman yang kutanyakan alasannya mengapa ia tidak mau masuk UI. “Alasan aku nggak mau masuk UI, terlalu pribadi. Jadi maaf kalau aku nggak cerita” katanya.

“Kenapa? terlalu berat?”

“Iya, berat banget. Dan aku yakin nggak ada orang yang ngalamin.”

“Berarti….” kataku heran “kamu bukan orang, dong?”

“Eee… Ya yai, yo!”

Pada akhirnya, ia bercerita juga padaku dan seorang temanku yang lain. Tapi memang masalah yang dimilikinya terlalu berat, sehingga aku tidak menemukan pemecahannya sampai sekarang. Satu-satunya penghiburan yang bisa kukatakan, adalah masih ada orang lain yang mengalami hal yang lebih parah darinya, dan orang itu masih hidup sampai sekarang.

Itu hanya salah satunya. Masih banyak rahasia yang tidak terbongkar di dalam kelas ini. Rahasia-rahasia yang sangat dalam dan gelap, yang bahkan guru paling berpengalaman sekalipun tidak akan mampu bahkan sekedar memberi secercah harapan untuk mengatasinya. Hanya diskusi antara kami, para remaja, yang cukup ampuh.

Aku jadi mengingat beberapa ajang diskusi yang dilakukan aku dan teman-temanku. Mestinya, sebagai remaja kami lebih banyak mendiskusikan masalah ringan. Minimal masalah perasaan. Tapi ini lain. Kami justru lebih sering mendiskusikan masalah hukum, pemerintahan, dan berbagai topik berat lainnya.

“Menurut kamu kenapa lebih baik calon presiden itu berasal dari kalangan militer?” tanya seorang temanku.

“Yah, gimana juga, orang-orang militer sudah terbiasa dengan disiplin dan sistem kepemimpinan. Beda dengan sipil yang kebanyakan awam.”

“Terus menurutmu dwi fungsi ABRI itu bagus?”

“Ya, dong!”

“Wah, kalau ada orang-orang anti-orba denger kamu ngomong begitu, gimana tuh?”

“…….. tolong cari mayatku nanti.”

Ha ha.

Kami semua turun bersama ke lapangan sekolah. Tertawa-tawa, menikmati hari terakhir kami sebagai siswa formal disini. Kami melintasi lapangan sekolah, lapangan tempat guru bagian kesiswaan sering memberikan hukuman kepada siswa yang datang terlambat, tidak memakai kelengkapan siswa, atau cabut. Aku sendiri dulu sering terlambat, padahal rumahku sangat dekat.

“Kamu!” kata guru itu pada saat aku terlambat pada suatu hari. “Rumah kamu dekat! Kenapa kamu terlambat?”

Aku menolak menundukkan kepalaku, jadi aku menjawab: “Sindrom rumah dekat, pak; makin dekat tempat tinggal makin lambat dia berangkat!”

Jawaban yang menurutku bagus.

Aku memandangi seluruh sudut sekolah ini. Suatu saat nanti di tahun-tahun mendatang, aku akan kembali ke tempat ini sebagai seseorang yang sukses. Mungkin hanya sebagai tamu, atau mungkin sebagai guru. Perasaanku mengatakan, semua temanku melakukan hal yang sama; bersumpah akan kembali lagi ke sekolah ini sebagai manusia yang sesungguhnya. Kami akan menunjukkan pada orang-orang yang telah mendidik kami, bahwa yang telah mereka lakukan tidaklah sia-sia.

Gerbang sekolah sudah dekat ketika air turun dari langit. Hujan tiba. Ia tiba tepat pada saat aku tidak bisa lagi mengingat hal lain tentang kelas dan sekolahku yang kutempati selama tiga tahun. Seakan hujan turun untuk menghapus sisa jejak kami di sekolah ini. Bagiku, hujan ini juga turun untuk mewakili raungan tangisku yang tidak lagi bersuara dan berair.

“Dah! Sampai ketemu lagi!” teriak salah satu temanku.

“Ya!” sambil ku balas lambaiannya.

Aku memandangi mereka yang berjalan ke arah pemberhentian angkutan umum. Ini adalah saat-saat terakhir kami bisa melakukan sesuatu secara bersama. Ujian akhir sudah dekat, dan ujian hidup yang sesungguhnya telah terlihat di depan mata. Pada saat itu, kami akan melakukan segala sesuatunya secara individual.

*Senin, 15 Maret 2010*

  1. nice!
    sepertinya aku ada saat itu. waktu foto2 kan aku yg motoin. dan akhrnya aku tau siapa wanita itu.

  2. bagus,,
    lucu,,
    bermakna,,
    ini kita yg sebenarnya.

  3. avatar Ganesha Indra C.

    Agung……..!!!!
    Thanks bro !!! telah jadi teman yang baik untuk dengerin segala ceritaku………..
    hahahaha……mengapa capres lebih baik dari kalangan militer tu kan pembicaraan kita.
    Siiip teman………SMA mungkin lebih bermakna bukan sekedar pernah punya cinta, tapi pelajaran hidup di sana yang membuat masa SMA begitu indah. Walah, lebay lagi…….
    hahahahaha……..tapi biarlah……pas ketemu lagi, mungkin aku dah ga seperti dulu lagi. Aku kembali, dan diwawancarai Andy F. Noya. Amin……

  4. bang bagus banget cerita abang ma…………
    bili suka ceritanya karena menyedihkan dan meyenangkan………

  5. erik gw ngefans banget lu itu kekel tau gw percaya kalau lu bakal dapeti rumah tau lu sms yah ajjah selalu tertinggi pertahan kan lagi
    ilove erik

Leave a Comment


NOTE - You can use these HTML tags and attributes:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>