Category Archives: Opini - Page 2

Sarkasme Memang Frontal

Bahwa sarkasme merupakan salah satu cara menyindir orang, aku agak kurang setuju sebenernya. Soalnya susah banget ngebuat orang tersindir. Apalagi yang dablek.

Tapi sarkasme beda. Membuat sindiran yang terdengar lucu padahal bernada negatif ternyata lebih mengena. Entah kenapa, tapi mungkin memang orang-orang lebih merasa perlu perbaikan kalau kasalahannya itu dijadikan lelucon. Hmm hmm hmm…..

Perlu belajar sarkasme lebih dalam lagi nih.

Kepanitiaan – Tentang Kontribusi atau Eksistensi

Aku udah sebulan gak posting ya? Oke deh, sekarang ku posting beberapa pendapatku tentang kepanitiaan yang baru kemaren kuhadiri.

Panitia ini dibentuk oleh beberapa orang yang ingin membantu sekelompok besar untuk mendapatkan salah satu “simbol” kelompok mereka. Tanpa keinginan untuk pamer, pamrih, hanya keinginan untuk berguna.

Yah…. sayangnya, setelah beberapa lama berjalan, panitia ini terkotori oleh sekumpulan “mayor” yang “mewakili suara sebagian besar”. Pengaruh cukup kuat dari mereka sehingga kepanitiaan jadi berubah haluan karena kumpulan “mayor” ini berhasil mempengaruhi ketua mereka.

Bisa ditebak kelanjutannya? Gini deh, karena panitia ini ingin hasil yang mereka capai bisa diterima oleh semua anggota mereka menjadi fleksibel dan menerima berbagai pendapat, kritik, dll. Tapi ternyata pendapatku benar: kalau semua orang di seluruh dunia ini fleksibel, gak akan ada tugas yang selesai. Ini terbukti, panitia ini akhirnya jadi kalabakan karena kebanyakan menerima kritik, dan anehnya, sedikit yang memberi saran.

Mencari kesalahan itu memang gampang ya -__-

Kalau kulihat, tidak ada yang salah dengan membuka diri terhadap pendapat. Yang salah adalah, membuka diri terhadap pendapat tanpa memberi filter seperti kode etik untuk berpendapat. Tanpa filter, ocehan tidak berguna akan masuk tak tersaring seperti ampas teh yang tidak disaring; mengendap dan menumpuk, saat sedikit teraduk langsung terangkat.

Yah… satu pelajaran buat kasus ini: tegas. Fleksibel boleh, tapi batasi dan beri filter. Kalau mau memberikan kontribusi, bukan berarti dengan melakukan semua yang diinginkan kelompok. Kalau maunya eksistensi, ya sana sok eksis sendiri.

Hmm hmm hmm……..

Aneh, Tetapi Tetap Dianggap Hebat

Judul merujuk kepada Almarhum Mbah Maridjan, “juru kunci” Gunung Merapi yang sekarang telah meninggal dalam keadaan (katanya) bersujud dan (katanya) berserah diri pada Yang Maha Kuasa.

Masih heran aku, kenapa kok sudah jelas-jelas menyekutukan Tuhan, Animisme, tapi masih juga mbah Maridjan dipuja-puja seperti “The Captain Who Never Leaves His Ship”. Dianggap telah berjiwa besar, berani, dan…. umm…. lupa aku apa lagi ya? itu lah.

Kematiannya menimbulkan banyak reaksi. Yang paling lucu yang ingin aku tertawakan keras-keras, spekulasi bagaimana mbah Maridjan bisa sampai meninggal di gunung yang “kunci”-nya dia pegang. Ada yang bilang karena beliau sedang apes salah menafsirkan pertanda, ada yang bilang beliau memang tahu dan bertahan karena merasa lebih baik mati disana, dan yang paling lucu, sebuah komentar dari pambaca berita tentang mbah Maridjan di situs Kompas menulis: Read more »

Rumah Penguin Mulai Sepi

Rumah Penguin bukan sepi dari pengunjung, tapi sepi dari komentar. Iya sih… sepi pengunjung juga. Dan harus diakui, itu karena isi blog ini tidak sesuai harapan banyak orang yang mengenalku.

Semenjak dulu, aku lebih sering berkutat dengan komputer dan dunianya; internet, programming, tweaking, dll. Apalagi setelah sekarang aku kuliah, makin banyak orang yang berharap isi blog ini akan berisi tutorial-tutorial berbau komputer yang berguna, mudah dan gampang. Sayang sekali, kalaupun ada tutorial, tutorial yang kuposting disini bukanlah tutorial yang benar-benar berguna secara langsung buat mereka, dan belakangan, aku tidak posting tutorial.

Alasanku kenapa Rumah Penguin tidak diisi tutorial-tutorial karena tutorial-tutorial itu bertebaran bagai sampah di internet, menunggu untuk dipulung dan dibawa pulang. Cuma perlu sedikit kata kunci dan tutorial yang mereka inginkan tersaji didepan mereka. Apalagi yang harus kutulis? Semua tentang SEO, hacking, cracing, programming, dll semua sudah berlimpah. Yang tersisa hanyalah hal-hal spesifik yang tidak berguna secara langsung.

Tapi memang, orang lebih suka jalan pintas daripada usaha. Aku juga suka jalan pintas, tapi maaf, tidak ada jalan pintas dalam hal ini.

Multi-Religion Community Memang Sulit Tercapai

Tadi siang aku menghadiri sebuah pertemuan. Pertemuan ini bersifat formal, intelektual, dan non-agama. Tapi walaupun dikatakan non-agama pun, para pesertanya saja sudah terasa seperti menganggap tidak ada agama lain. Ok, mengucapkan salam sebelum memulai sambutan itu memang harus, tapi mengucapkannya dalam cara satu agama saja (Islam, Assalamualaikum wr. wb.) tanpa menambahkan ucapan seperti selamat siang, selamat sore, halo, rasanya seperti memukul rata seluruh hadirin dalam satu agama.

Kemudian ketika menutup acara, doa penutup dibacakan. Sekali lagi, dalam cara satu agama saja. Panjang pula. Seandainya aku non-muslim, ketika acara penutup yang berupa doa panjang lebar dalam bahasa arab dibacakan, aku mesti ngapain?

Yah… kelihatannya ini masalah sepele. Tapi hati-hati, yang membuat orang terjatuh bukanlah terbentur batu besar, melainkan karena tersandung batu kecil.