<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Penguin &#187; Cerpen</title>
	<atom:link href="http://www.rumahpenguin.web.id/category/cerpen/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.rumahpenguin.web.id</link>
	<description>Rumahnya Penguin. Masa gitu aja perlu dijelasin?</description>
	<lastBuildDate>Sat, 04 Feb 2012 08:26:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Cerpen: Eudaimonia</title>
		<link>http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/cerpen-eudaimonia/</link>
		<comments>http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/cerpen-eudaimonia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Jun 2011 13:30:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Penguin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[kemudian.com]]></category>
		<category><![CDATA[Maut]]></category>
		<category><![CDATA[metafisika]]></category>
		<category><![CDATA[program tantangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rumahpenguin.web.id/?p=236</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/cerpen-eudaimonia/" title="Cerpen: Eudaimonia"></a>(Cerpen ini di-posting juga di http://www.kemudian.com/node/256280. Bagi kners, tolong komentarin di k.com juga dong ) Aku terbangun. Biasanya, aku tidak akan dibangunkan kecuali ada hal-hal baru yang perlu kulakukan. Entah apa rencanaNya kali ini, membangunkanku ditengah kegelapan malam seperti ini. &#8230;<p class="read-more"><a href="http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/cerpen-eudaimonia/">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/cerpen-eudaimonia/" title="Cerpen: Eudaimonia"></a><p>(Cerpen ini di-<em>posting</em> juga di <a href="http://www.kemudian.com/node/256280">http://www.kemudian.com/node/256280</a>. Bagi kners, tolong komentarin di k.com juga dong <img src='http://www.rumahpenguin.web.id/wp-includes/images/smilies/1.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  )</p>
<p>Aku terbangun.</p>
<p>Biasanya, aku tidak akan dibangunkan kecuali ada  hal-hal baru yang perlu kulakukan. Entah apa rencanaNya kali ini,  membangunkanku ditengah kegelapan malam seperti ini.</p>
<p>Aku  meregangkan tubuhku setelah sekian lama tertidur. Aku memperhatikan  wujud yang kali ini diberikan olehNya. Mungkin butuh sedikit  penyesuaian, tapi aku pasti akan terbiasa dengan keempat kaki ini. Aku  tidak pernah bertanya alasan di balik setiap wujud yang kudapat, karena  aku yakin sebagian besar tidak ada alasannya.</p>
<p>Setelah sedikit  mengasah kuku, aku keluar dari tempat gelap ini. Aku berjalan tanpa arah  yang jelas, tetapi aku tahu aku pasti akan sampai pada tujuan ku.<span id="more-236"></span></p>
<hr />
<p>Itu dia, manusia yang pertama perlu kutemui.</p>
<p>Sebenarnya,  pria itu belum lanjut usia. Tapi kini ia terbaring di kasur rumah  sakit. Nafasnya sudah begitu pendek. Orang lain akan mengira ia sedang  terserang asma seandainya tidak mendengar apa yang kudengar: detak  jantung yang terlalu cepat.</p>
<p>Aku melangkah mendekatinya, tepat  ketika perawat terakhir menutup pintu. Perlahan, aku menaiki kasur pria  itu, berusaha untuk tidak mengagetkannya.</p>
<p>Pria itu melihatku. Dengan nafas yang tersendat, ia mencoba bicara.</p>
<p>&#8220;Apakah kau&#8230; Maut?&#8221;</p>
<p>&#8220;Bukan,&#8221; jawabku. &#8220;Aku hanya mengajukan pertanyaan.&#8221;</p>
<p>Maka aku pun bertanya, &#8220;Apa yang kau kejar dalam hidup ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku&#8230; mengejar kebahagiaan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang kau lakukan untuk itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mengumpulkan harta untuk menjamin kebahagiaanku.&#8221;</p>
<p>&#8220;Berhasil kah itu?&#8221;</p>
<p>Pria  itu menggeleng, wajahnya terlihat sedih. Aku turun dari kasurnya,  melangkah menjauh ketika suara angin memberitahuku bahwa sabitNya telah  terayun.</p>
<div>
<p>Tidak ada yang baru kali ini.</p>
<hr />
</div>
<p>&#8220;Apa yang kau kejar dalam hidup ini?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku mengejar kebahagiaan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa yang kau lakukan untuk itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku menikah, berkeluarga, dan memiliki anak dan cucu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Berhasil kah itu?&#8221;</p>
<p>Wanita  yang telah tua renta itu menggeleng, &#8220;Tidak. Hubunganku dengan suamiku  tidak lagi seperti dulu. Anak-anakku kini juga telah berkeluarga, tetapi  aku tidak pernah lagi melihat mereka.&#8221;</p>
<p>Aku meninggalkan wanita  itu dalam kesendiriannya di rumah kecil itu. Aku membiarkan sabitNya  mengayun ketika rumah itu terbakar dan meledak. Aku melewati begitu saja  orang-orang yang ramai memberikan bantuan, berjalan dengan tenang tanpa  ada orang yang memperhatikan.</p>
<p>Aku masih menemukan hal yang baru.  Kedua orang yang telah kudatangi memberikan jawaban yang hampir mirip  dengan orang yang pernah kudatangi dulu. Tidak ada yang baru.</p>
<p>Aku  melanjutkan perjalananku yang tanpa arah. Salju telah turun ketika malam  tiba, diiringi nyanyian-nyanyian doa. Sepertinya besok adalah hari yang  penting, tetapi aku tahu di daerah ini hari penting seperti itu tidak  mendapat hari libur yang formal. Karena itu, seharusnya aku tidak heran  melihat pemuda itu berjalan menyebrangi jalan raya yang sepi.</p>
<p>Tapi  pemuda itu melakukan sesuatu yang menarik perhatianku. Ia berhenti  ditengah penyebrangan, memandang kosong ke arah mobil yang sedang melaju  cepat. Aku memandang ke sekitarku, mencari-cari siapa tahu Ia telah  berada disekitar sini dengan membawa sabitNya. Tapi Ia tidak ada disini.</p>
<p>Mobil  itu mengerem perlahan, dan berhenti beberapa meter dari tempat pemuda  itu berdiri. Supirnya turun dari mobil dan bertanya apa yang dilakukan  pemuda itu, tetapi pemuda itu malah melanjutkan menyeberang tanpa  menjawab pertanyaan, melewatiku tanpa ia sadari.</p>
<p>Aku mengikutinya  hingga akhirnya pemuda itu sampai di sebuah rumah yang besar. Aku  berkeliling ketika si pemuda telah memasuki rumah. Teriakan &amp;  bentakan terdengar nyaring dari dalam rumah. Aku mengintip ke dalam  rumah. Dari jendela, aku melihat sepasang pria dan wanita paruh baya  sedang bertengkar. Sepertinya mereka adalah orangtua pemuda itu.</p>
<p>Tapi pemuda itu, aku baru sadar, hanya melewati kedua orangtuanya yang sedang adu teriak dengan wajah datar.</p>
<p>Aku  penasaran dengan pemuda itu. Aku menyusup ke dalam rumah, seperti biasa  tanpa disadari para penghuninya. Pemuda itu masuk ke kamar tidurnya,  mematikan lampu ruangan dan hanya menyalakan lampu meja.</p>
<p>Pemuda  itu duduk dilantai dengan kamera video dihadapannya. Ia berbicara  begitu pelan. Aku memasuki kamarnya tanpa suara dan mendengarkan. Hanya  keluh kesah yang ia rekam dengan kamera video itu. Tidak menarik bagiku.</p>
<p>Pemuda  itu kemudain membuka sebotol obat nyamuk semprot. Ia menuangkan isinya  ke cawan kecil. Aku langsung tahu apa yang akan dilakukan pemuda itu.  Segera, aku mencari-cari ke sekitarku, sekali lagi mendapati bahwa Ia  tidak ada disini.</p>
<p>Mendadak, pemuda itu menjatuhkan cawannya yang  masih penuh. Ia terjatuh dari kursinya dan merapat ke dinding. Aku sudah  terkejut ketika cawan itu jatuh dan pecah, tetapi apa yang terjadi  setelahnya membuatku lebih terkejut lagi.</p>
<p>Pemuda itu <em>menatapku</em>.</p>
<p>“Kau bisa melihatku?”</p>
<p>Aku tidak perlu bertanya. Wajahnya yang terlihat ketakutan sudah memberitahuku. Tidak salah lagi. Pemuda itu melihatku.</p>
<p>“Apakah kau&#8230; Maut?” tanya pemuda itu ketakutan.</p>
<p>“Bukan,” jawabku, “dan Ia masih belum berada disini.”</p>
<p>Aku  mencariNya sekarang. Tidak biasanya aku bisa dilihat saat Ia tidak ada.  Sejak pertama kali aku dibangunkan, aku hanya terlihat oleh orang-orang  yang telah didatangi olehNya. Mudah membedakan antara orang yang telah  Ia datangi dan yang belum didatangiNya, karena orang itu akan diikuti  olehNya sejak tujuh hari sebelumnya. Tapi Ia tidak ada disini sekarang.  Pemuda itu belum berada di akhir usianya.</p>
<p>“Apakah&#8230;,” pemuda itu bicara lagi. Aku berhenti mencariNya. “Apakah&#8230; apakah itu berarti aku tidak akan mati?”</p>
<p>Intuisi yang bagus menurutku, “Belum, lebih tepatnya,” jawabku. “Kenapa? Kau menginginkannya?”</p>
<p>Pemuda  itu terdiam. Setelah beberapa saat, ia mengangguk. Aku menghela nafas,  berpikir. Apa yang sedang direncanakanNya? Apakah ini salah satu  pekerjaanNya yang memang tidak beralasan? Atau ini hanya kejadian tak  terduga?</p>
<div>
<p>Tapi aku tersenyum sekarang. Akhirnya aku menemukan sesuatu yang baru.</p>
<hr />
</div>
<p>Perayaan  untuk esok telah dilakukan oleh rumah-rumah disekitar sini. Hanya rumah  ini yang tidak melakukannya. Diluar, terdengar isak tangis. Sang ayah  sepertinya telah pergi dari rumah. Pemuda itu kini sedang menulis surat.  Sepertinya ia berusaha berpura-pura bahwa aku tidak ada.</p>
<p>Aku  berusaha menghubungi Dia, tetapi sia-sia. Bukan karena aku tidak  berhasil menghubungiNya, tapi murni karena memang aku tidak tahu  caranya. Obat nyamuk cair yang tadi akan pemuda itu minum ternyata tidak  memiliki kandungan racun yang cukup untuk membunuh manusia. Mungkin  hanya kerusakan otak, tetapi tidak mati.</p>
<p>“Mengapa kau ingin mati?” tanyaku setelah hening beberapa lama. Awalnya, pemuda itu berpura-pura tidak mendengar.</p>
<p>“Mengapa kau ingin mati?” tanyaku lagi.</p>
<p>Pemuda itu masih tidak menjawab.</p>
<p>“Mengapa kau ingin mati?” tanyaku untuk ketigakalinya.</p>
<p>Pemuda itu akhirnya berhenti menulis. Ia menjawab dengan suara pelan, “Aku ingin mendapatkan kebahagiaan.”</p>
<p>“Kau ingin mengejar kebahagiaan?”</p>
<p>“Tidak, aku ingin mendapatkan kebahagiaan.”</p>
<p>Jawaban itu membingungkanku. Apa bedanya?</p>
<p>“Kebahagiaan  yang kuinginkan sudah tidak ada di dunia ini,” kata pemuda itu. “Tidak  ada lagi kebahagiaan yang bisa kukejar di dunia ini; semuanya sudah  terlalu jauh. Aku ingin mendapatkannya dengan cara lain.”</p>
<p>“Dengan mati? Kebahagiaan tidak ada di ujung lorong yang bercahaya saat kau mati.  Lorongnya saja tidak ada.”</p>
<p>Pemuda itu tertunduk lesu, “Darimana kau tahu itu?”</p>
<p>“Aku tidak bisa menjawab pertanyaan itu.”</p>
<p>“Kenapa?”</p>
<p>“Karena aku juga tidak tahu.”</p>
<p>Pemuda  itu melanjutkan tulisannya. Penasaran, aku naik ke atas meja dan  membaca tulisan panjang yang ia tulis. Sekali lagi, pemuda itu tidak  mempedulikanku.</p>
<p>“Pesan bunuh diri?” tanyaku. Pemuda itu tidak  menjawab. Aku menghela nafas, “aku sudah bilang padamu, Ia tidak berada  disini. Kau belum akan mati.”</p>
<p>“Aku bisa mencoba.”</p>
<p>Ia melanjutkan suratnya. “Hei&#8230;.”</p>
<p>“Tolong,”  kata pemuda itu, “tolong jangan bujuk aku untuk tidak melakukannya. Aku  sudah membulatkan tekad. Aku ingin mati. Tidak ada lagi kebahagiaan  yang tersisa di dunia ini untukku. Tolong jangan katakan lagi tentang Ia  tidak berada disini. Aku tidak peduli!”</p>
<div>
<p>“Oh, kau akan peduli yang ini,” kataku, “Kau salah menulis kanji ‘beruntung’. Yang kau tulis ini artinya ‘pedas’.”</p>
<hr />
</div>
<p>Sepertinya  pemuda ini sudah bersungguh-sungguh. Setelah meninggalkan pesan bunuh  dirinya di atas meja tulis, ia pergi dari rumah tanpa membawa apapun  selain pakaian yang ia pakai. Aku tidak tahu kemana ia akan pergi untuk  bunuh diri. Dugaanku, ia mungkin akan memilih tempat yang bisa  membuatnya tewas seketika. Dengan segera aku mengeliminasi beberapa  kemungkinan seperti gantung diri dan jembatan.</p>
<p>Aku mengikuti  pemuda itu dengan santai. Aku tidak melihatNya sejak tadi, sehingga aku  yakin pemuda ini masih akan gagal melaksanakan niatnya. Tetapi  ketertarikanku untuk mengikutinya justru mengganggu batinku. Apalagi  pemuda itu bisa melihatku sebelum didatangi olehNya.</p>
<p>Kami melewati  jalur yang berbeda dengan sebelumnya hingga mencapai sebuah gedung yang  sedang dibangun. Pasti inilah lokasinya, tempat pemuda itu ingin  mengakhiri hidupnya. Tapi pemuda itu tidak segera masuk ke gedung itu.  Ia mengitari bangunan itu terlebih dahulu, memastikan sudah tidak ada  pekerja atau siapapun. Tidak perlu menurutku, mengingat malam ini adalah  malam perayaan.</p>
<p>“Paman, paman bisa bantu aku?”</p>
<p>Suara anak  kecil memanggil pemuda itu. Ia berhenti dan menoleh ke seberang jalan.  Seorang gadis kecil sedang berdiri memandanginya. Sekumpulan kado yang  terbungkus rapi berserakan disekitarnya.</p>
<p>“Paman bisa bantu aku?” tanya gadis kecil itu lagi.</p>
<p>Pemuda  itu tidak menjawab. Ia memandangi gedung yang sedang ia kitari dan  gadis kecil itu secara bergantian. Aku tahu, seandainya pemuda itu  menolak membantu, gadis kecil itu akan tetap disitu semalaman dan  mungkin akan menyaksikan aksi bunuh dirinya.</p>
<p>“Bantulah anak itu,” kataku pada pemuda itu, “untuk mengisi waktu sementara Ia belum berada disini.”</p>
<p>Pemuda  itu akhirnya mendekati gadis kecil itu, membantunya memunguti kado-kado  yang berserakan dan membantu membawanya. Aku tidak ikut membantu, bukan  karena aku tidak peduli, tetapi karena memang aku tidak bisa memegang  kado-kado itu.</p>
<p>“Paman, paman bisa bantu aku mengantarkannya?”</p>
<p>Pemuda  itu sepertinya berpikir dulu sebelum menjawab. Mungkin menunda-nunda  rencana memang bukan kebiasaannya. Tapi akhirnya ia berkata, “Baiklah,  paman akan bantu.”</p>
<p>Gadis kecil itu dengan riang memimpin kami ke  beberapa rumah dan apartemen disekitar situ. Di setiap pintu, ia  mengetuk hingga penghuni rumah tersebut membukakan pintu. Gadis kecil  itu memberikan satu kado untuk setiap rumah yang ia datangi. “Untuk  teman-teman baikku,” jawab gadis kecil itu ketika ditanya oleh si  pemuda.</p>
<p>“Mengapa orangtuamu tidak ikut?” tanya pemuda itu.</p>
<p>“Aku lebih senang begini,” jawab gadis kecil itu riang.</p>
<div>
<p>Puluhan  rumah dan apartemen kami datangi. Setiap penghuni rumah menyambut kami  dengan hangat. Suasana perayaan sampai terasa olehku. Aku terbawa aura  riang gadis kecil itu. Pemuda itu sepertinya mengalaminya juga, karena  setelah beberapa lama ia tersenyum dan tertawa, ikut bercanda dengan si  gadis kecil yang riang.</p>
<hr />
</div>
<p>Akhirnya, kami sampai ke rumah yang  terakhir, rumah si gadis kecil. Anak itu menarik tangan pemuda itu  hingga ke depan pintu dan mengetuknya. Pintu terbuka setelah beberapa  kali ketukan.</p>
<p>“Nak, ya ampun!” Seorang pria yang membukakan pintu langsung memeluk si gadis kecil. “Kamu mengantarkan kado lagi?”</p>
<p>Gadis kecil itu mengangguk sambil tersenyum. Ia kemudian menunjuk ke si pemuda, “Paman ini membantuku,” katanya.</p>
<p>Setelah  mengucapkan terima kasih, pria itu, ayah si gadis kecil, mengundang  pemuda itu masuk untuk minum teh. Awalnya pemuda itu menolak, tetapi  karena si gadis kecil ikut memaksa, pemuda itu akhirnya menerima  undangannya. Aku ikut masuk walaupun pemuda itu sudah terlihat khawatir  bahwa aku akan terlihat. Tapi ternyata tidak, sang ayah dan gadis kecil  itu tidak menyadari keberadaanku.</p>
<p>Sang ayah dan ibu menyambut  pemuda itu dengan hangat. Mungkin karena pemuda itu telah menemani si  gadis kecil semalaman hanya untuk mengantarkan kado-kado kecil yang  ternyata isinya adalah kue-kue kecil dibuat sendiri. Karena aku tidak  mungkin ikut minum teh, aku berkeliling di dalam rumah. Aku  melihat-lihat foto keluarga di rumah ini. Sangat kontras suasananya  dengan rumah si pemuda yang sudah terasa suram dari pintu depan.</p>
<p>Aku  benar-benar terbawa suasana riang rumah ini. Seandainya aku bukan  makhluk yang menemui manusia menjelang ajalnya, mungkin aku ingin  tinggal di rumah ini. Aku berbaring, menunggu pemuda itu selesai dengan  jamuannya. Aku tidak merasa bosan karena suasana rumah ini begitu  hangat.</p>
<p>Begitu hangat&#8230;.</p>
<p>Tunggu. Ini memang hangat. Secara denotatif.</p>
<p>Perasaanku  tidak enak. Dengan tergesa aku berdiri dan keluar dari rumah. Aku  mencari-cari disekitar rumah ini, tetapi tidak menemukan apapun yang  aneh. Aku berkeliling, masih tanpa hasil. Saat aku kembali, pemuda itu  telah berada di pintu dengan membawa sekantong kue. Aku berusaha  membuang perasaan tidak enakku. Mungkin itu memang hanya perasaanku  saja.</p>
<p>Tidak.</p>
<p>Itu bukan hanya perasaanku.</p>
<p>Tepat saat  pintu tertutup dan pria itu berjalan menjauh dari rumah, aku melihatNya.  Aku melihatNya, melayang diatas sebuah mobil yang bergerak oleng di  ujung jalan komplek perumahan ini. SabitNya telah dikeluarkan; Ia akan  segera mencabut nyawa.</p>
<p>Mobil yang oleng itu bergerak dengan  kecepatan tinggi, tepat ke arah si pemuda. Cahaya lampu mobil  memberitahu si pemuda bahwa hanya dalam beberapa detik lagi ia akan  ditabarak. Aku melihatNya telah mengangkat sabitNya. Perlahan, terus  naik, sabitNya kemudian terayun.</p>
<p>Mobil itu banting stir; pemuda itu terlewati dan selamat.</p>
<p>Tapi  pemuda itu justru semakin syok. Bukan karena ia gagal mati untuk  kesekiankalinya, tapi karena mobil itu menabrak dinding rumah si gadis  kecil.</p>
<p>Hanya beberapa detik kemudian, terjadi ledakan. Mobil itu  ternyata menabrak tabung gas di dalam rumah itu. Dalam beberapa detik,  kebakaran terjadi. Aku segera berlari menghampiri si pemuda yang kini  jatuh terduduk dan menganga melihat api yang semakin besar.</p>
<p>Beberapa  warga keluar dari rumah masing-masing. Aku tidak tahu apakah ada  diantara mereka yang sudah menghubungi bantuan. Aku memandangi rumah si  gadis kecil. Rumah yang suasananya riang itu kini terbakar. Mendadak,  pemuda itu berdiri dan langsung berlari kembali ke rumah itu. Ia  mendobrak pintu depan dan segera masuk. Aku tidak ikut. Aku malah  terpukau dengan kejadian itu.</p>
<p>Tidak lama, pemadam kebakaran tiba.  Pemuda itu masih belum keluar. Aku tidak mungkin memberitahu para  pemadam kebarakan bahwa masih ada orang di dalam. Akhirnya aku hanya  menunggu pemuda itu keluar. Atau mungkin ia tidak akan keluar? Siapa  tahu, ia akhirnya mendapatkan kematian yang diinginkannya?</p>
<p>Kemudian,  aku melihat sang ayah dan ibu berhasil keluar dari rumah. Si gadis  kecil digendong oleh sang ayah. Darah mengalir di dahinya. Beberapa  petugas langsung membantu mereka, memberikan pertolongan pertama kepada  si gadis kecil dan keluarganya.</p>
<p>“Masih ada orang di dalam!” kata  sang ayah pada si petugas, “ada pemuda yang tertindih kuda-kuda atap di  ruang tamu! Ia butuh pertolongan!”</p>
<div>
<p>Aku berlari bersama tiga  orang petugas ke dalam rumah. Pemuda itu sudah tidak sadarkan diri saat  para petugas berhasil mengeluarkannya dari rumah yang terbakar dan  melarikannya ke rumah sakit.</p>
<hr />
</div>
<p>“Apa yang kau kejar dalam hidup ini?”</p>
<p>“Aku tidak mengejar apapun.”</p>
<p>Aku  duduk di samping pemuda itu, dan bicara padanya setelah perawat  terakhir menutup pintu. Aku memberikan pertanyaan yang sama dengan yang  telah kuberikan ke orang lain. Tapi, inilah saatnya aku merubah  pertanyaanku.</p>
<p>“Apa yang ingin kau dapatkan dalam hidup ini?”</p>
<p>“Aku&#8230; ingin mendapatkan kebahagiaan.”</p>
<p>“Apa yang kau lakukan untuk mendapatkannya?”</p>
<p>“Aku  berusaha meninggalkan dunia ini, berusaha mendapatkan kebahagiaan yang  ada setelah kematian,” pemuda itu tersenyum, “tetapi ternyata aku bisa  mendapatkannya sebelum aku mati.”</p>
<p>“Bagaiamana caranya?”</p>
<p>“Dengan membantu orang lain mendapatkan kebahagiaannya.”</p>
<p>Aku  turun dari kasur pemuda itu. Ada sedikit rasa sesal karena aku harus  meninggalkannya. Sebelum aku sampai ke pintu, pemuda itu memanggilku.</p>
<p>“Bolehkah aku meminta satu hal?”</p>
<p>“Apa itu?”</p>
<p>“Gadis kecil itu,” kata si pemuda, “aku ingin ia bahagia, tidak merasakan penderitaan hidup yang kurasakan.”</p>
<p>Aku  mengangguk. Aku berjalan menuju pintu ketika akhirnya si pemuda  mendapatkan apa yang ia inginkan sejak sebelum bertemu si gadis kecil.  Suara udara yang terbelah, menandakan bahwa Ia sedang bekerja,  mengayunkan sabitNya.</p>
<p>Aku mendatangi bangsal tempat gadis kecil  itu dirawat. Di kanan dan kiri si gadis kecil, kedua orangtuanya  tertidur menemaninya. Perlahan, aku naik ke atas kasur si gadis kecil,  berusaha untuk tidak membangunkannya.</p>
<p>Gadis kecil itu terbangun. Dengan nafas pendek-pendek, ia bertanya, “Apakah kau&#8230;.”</p>
<p>“Maut? Ya”</p>
<p>Ku ayunkan sabitKu.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/cerpen-eudaimonia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cerpen: Boneka Koala di Atas Pohon</title>
		<link>http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/cerpen-boneka-koala-di-atas-pohon/</link>
		<comments>http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/cerpen-boneka-koala-di-atas-pohon/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Sep 2010 15:41:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Penguin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[baru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rumahpenguin.web.id/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/cerpen-boneka-koala-di-atas-pohon/" title="Cerpen: Boneka Koala di Atas Pohon"></a>Diposting juga di http://www.kemudian.com/node/247445 Ini cerpen yang ditulis saat aku kejebak tidak bisa masuk kosan selama 3 hari. Cerita tentang kejebak ditempat kosannya mana? Gak usah ah. Malu-maluin banget&#8230;. OK. Lanjut!!! Seperti yang biasa kulakukan setiap hari saat pergi ke &#8230;<p class="read-more"><a href="http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/cerpen-boneka-koala-di-atas-pohon/">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/cerpen-boneka-koala-di-atas-pohon/" title="Cerpen: Boneka Koala di Atas Pohon"></a><p>Diposting juga di <a href="http://www.kemudian.com/node/247445" target="_blank">http://www.kemudian.com/node/247445</a></p>
<p>Ini cerpen yang ditulis saat aku kejebak tidak bisa masuk kosan selama 3 hari. Cerita tentang kejebak ditempat kosannya mana? Gak usah ah. Malu-maluin banget&#8230;.</p>
<p>OK. Lanjut!!!</p>
<hr />
<p>Seperti yang biasa kulakukan setiap hari saat pergi ke kampus, aku melewatinya.</p>
<p>Sebuah boneka berbentuk koala berwarna coklat bertengger di sebuah  pohon yang berada di tengah jalan. Boneka itu sudah sangat lusuh,  mungkin karena termakan cuaca begitu lama. Dari yang kudengar, boneka  itu sudah berada disana sejak senior-senior angkatan belasan tahun yang  lalu memasuki gerbang kampus untuk pertama kali.</p>
<p>Yang luar biasa, boneka itu tidak pernah jatuh dari pohon tempat ia  bertengger. Persis seperti koala yang sedang menunggu pasangannya.</p>
<p>Berbagai kisah berbeda diceritakan oleh penduduk sekitar tentang asal  mula boneka itu. Semuanya sama sekali tidak berkaitan, dan unsur mistis  meliputi sebagian besar diantaranya. Seandainya aku tidak pernah  mendengar kisah yang satu itu, mungkin aku juga akan menganggapnya  boneka terkutuk yang harus dijauhi.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;<span id="more-127"></span></p>
<p>&#8220;Itu boneka putri saya.&#8221;</p>
<p>&#8220;&#8230;. Hah?&#8221;</p>
<p>Setelah  hampir dua tahun aku terus mendengar berbagai jenis kisah, baru kakek  ini yang menceritakannya dengan mengklaim siapa pemilik boneka. Aku  tersedak ketika sang kakek penjual soto tempatku sedang mengisi perut  ini memberikan pernyataannya.</p>
<p>Aku minum banyak-banyak; tersedak kuah soto itu menyakitkan. &#8220;Maksudnya putri?&#8221; kataku setelah tenggorokan terasa lebih baik.</p>
<p>Kakek  itu berjalan perlahan ke meja kasir. Ia menarik hingga terbuka laci  yang terbawah. Dari situ, ia mengeluarkan sebuah foto usang hitam putih  tanpa bingkai. Ia kembali duduk di hadapanku yang sudah kehilangan minat  untuk makan. Di wajahnya yang sudah terlihat begitu tua, terukir  kesedihan yang luar biasa ketika ia menunjukkan foto itu padaku.</p>
<p>&#8220;Foto  ini diambil 24 tahun yang lalu,&#8221; kata kakek itu sambil menunjuk angka  1986 yang ditulis dengan tinta hitam di sudut kiri bawah foto itu, &#8220;dan  yang di tengah ini putri saya.&#8221;</p>
<p>Jarinya yang keriput menunjuk ke  satu-satunya anak kecil di foto berisi tiga orang itu. Seorang anak  kecil, mungkin kurang lebih 10 tahun usianya, sedang memeluk sebuah  boneka koala. Boneka koala yang sama dengan boneka koala yang sekarang  bertengger di pohon yang sering kulalui. Ia berdiri di tengah dua orang  dewasa dan bersama mereka, ia terlihat begitu gembira.</p>
<p>&#8220;Bagaimana kejadiannya&#8230;.&#8221;</p>
<p>Aku  menyesali pertanyaan yang terlontar secara spontan itu. Aku merasa  kakek itu mungkin tidak ingin mengingat kejadiannya, apapun itu. Aku  tidak sepenuhnya salah; kakek itu menghela nafas sejenak, tetapi ia  kemudian menceritakan kisah putrinya, kisah yang sebenarnya tentang  boneka koala di tengah jalan itu.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Untuk pertama kalinya, Teguh memaki-maki putrinya sendiri.</p>
<p>Teguh  terus membentak, mencela, memaki dengan berbagai macam umpatan. Ia  tidak peduli dengan tangisan istrinya yang ingin kata-kata kotor  berhenti menghujani putri mereka satu-satunya. Teguh benar-benar sudah  hilang kendali; putrinya telah merusak nama keluarga mereka.</p>
<p>Tanpa  henti, hampir tanpa tarikan nafas, Teguh terus memaki memaki putrinya  yang menangis sambil memegang perutnya yang besarnya sudah terlihat  tidak normal. Teguh benar-benar sakit hati. Ia meninggalkan istri dan  anaknya itu selama lima bulan untuk menunaikan tugasnya di ujung negeri  sebagai alat negara. Ia rela menjadi salah satu dari kambing hitam  masyarakat yang mencari-cari kesalahan pemerintah demi membiayai hidup  keluarga dan biaya kuliah putrinya tahun depan.</p>
<p>Tapi sekarang  semuanya seakan terbuang sia-sia. Putri berhubungan di luar nikah pada  usianya yang masih belasan tahun, dan kini tengah mengandung benih dari  pria yang bahkan Teguh belum pernah melihatnya.</p>
<p>Teguh mengeluarkan  emosinya selama hampir setengah jam ketika akhirnya ia berhenti.  Nafasnya terengah-engah seakan habis berlari puluhan kilometer tanpa  henti. Sekarang ia benar-benar gelisah. Seandainya orang-orang tahu  putrinya hamil di luar nikah, nama putrinya dan keluarga bisa  benar-benar rusak.</p>
<p>&#8220;Antar bapak ke tempat laki-laki itu!&#8221; Kata Teguh mencengkeram lengan putrinya.</p>
<p>Teguh  tahu putrinya tidak punya pilihan. Walaupun masih berurai air mata,  putrinya mencoba menahan tangisnya ketika ia mengantar Teguh dan  istrinya ke sebuah rumah bertingkat di dekat sebuah kampus tempat Teguh  bermimpi bisa memasukkan putrinya kuliah disana.</p>
<p>Melihat rumah  ini, firasat buruk menerpa Teguh. Rumah ini bertingkat tiga, tapi rumah  ini tidak menunjukkan tanda-tanda dimiliki oleh orang kaya. Ada banyak  jendela di lantai dua dan tiga yang melaluinya, Teguh bisa melihat  berbagai kegiatan di dalamnya.</p>
<p>Ketukan pintu putrinya disambut oleh seorang ibu-ibu yang sedang memasak di dapur yang terlihat dari pintu depan.</p>
<p>&#8220;Eh&#8230; neng Aisyah! Udah lama neng Aisyah gak kesini!&#8221; Kata ibu itu sambil mengelap tangannya yang kotor dengan abu.</p>
<p>&#8220;Bu,&#8221; kata Aisyah tanpa memperkenalkan orangtuanya lebih dulu, &#8220;Mas Yopi ada?&#8221;</p>
<p>Ibu  itu terlihat agak heran dengan pertanyaan Aisyah. Firasat buruk Teguh  semakin kuat ketika ibu itu balik bertana, &#8220;Loh, neng Aisyah belum  bener-bener nggak dapat kabar sama sekali?&#8221;</p>
<p>&#8220;Yopi kan wisuda dua  bulan lalu. Sekarang Yopi udah balik lagi ke daerahnya di Banjarmasin.  Dia titip salam sih buat neng Aisyah, katanya dia nanti balik lagi&#8230;.&#8221;</p>
<p>Tapi  Teguh sudah putus harapan. Ia berjalan dengan langkah gontai menjauhi  rumah ternyata digunakan sebagai kos-kosan mahasiswa itu, meninggalkan  istrinya yang berusaha menenangkan Aisyah.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Berbagai  usaha pemecahan telah dipikirkan oleh Teguh semalaman tanpa tidur,  hanya untuk sampai kepada keputusan yang paling brutal, yang paling hina  yang akan terpikirkan oleh siapapun. Putrinya harus melakukan aborsi.</p>
<p>Teguh  tidak menunda lebih lama. Ia langsung menghampiri putrinya yang duduk  lesu di meja makan sambil memeluk boneka koala kesayangannya keesokan  harinya. Teguh bertekad dalam hati agar tidak mengeluarkan sumpah  serapah apapun. Makiannya kemarin tidak merubah apapun, dan juga tidak  akan merubah hari ini.</p>
<p>&#8220;Bapak mau kamu aborsi.&#8221;</p>
<p>Bunyi logam  berkelontangan menandakan bahwa istrinya juga kaget mendengar  kata-katanya, seperti Aisyah yang langsung menegakkan kepalanya dan  memandang Teguh lurus-lurus.</p>
<p>&#8220;Bapak sudah pikirkan ini semalaman,&#8221;  lanjut Teguh. &#8220;Bapak kenal ada bidan di luar kota. Bapak yakin dia mau  bantu mengaborsi janin dalam rahimmu itu.&#8221;</p>
<p>Teguh tahu apa yang  akan dikatakan Aisyah, namun tetap saja itu mengejutkan Teguh. &#8220;Tidak  mau,&#8221; kata Aisyah, &#8220;Aisyah mau menunggu Mas Yopi kembali.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aisyah,&#8221;  Teguh berusaha menahan emosinya, &#8220;kamu harus mengerti masalahnya. Kamu  masih belasan tahun, bahkan SMA saja belum lulus. Kamu mau menunggu Yopi  sampai kapan? Bagaimana kalau dia tidak kembali? Apa kata orang nanti  saat kamu mengendong bayi tanpa ada yang tahu siapa ayahnya?&#8221;</p>
<p>Aisyah  tidak menjawab. Ia hanya menundukkan kepalanya. Teguh ingin putrinya  menangis, setidaknya itu menunjukkan bahwa ia masih bisa mempengaruhi  jalan pikiran putrinya. Tapi Aisyah tidak menangis lagi seperti kemarin.  Ia menundukkan kepalanya, tetapi tangannya memeluk boneka koala  pemberian Teguh seakan ia memantapkan pendiriannya.</p>
<p>&#8220;Tidak,&#8221; kata Aisyah lagi.</p>
<p>&#8220;Aisyah&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Pak,  Mas Yopi pulang ke kampung halamannya bukan karena dia tidak mau  bertanggung jawab,&#8221; kata Aisyah. &#8220;Aisyah yang salah. Waktu Aisyah tahu  sedang mengandung anaknya, Aisyah justru menjauhi Mas Yopi tanpa  memberitahukan apapun padanya. Bahkan Mas Yopi mencari-cari Aisyah,  menanyakan alamat ke warga.&#8221;</p>
<p>&#8220;Mas Yopi sudah pernah ke rumah, Pak. Tapi Aisyah mengusirnya,&#8221; lanjut Aisyah.</p>
<p>&#8220;Aisyah, kalau kamu sudah mengusirnya, bagaimana kamu bisa berharap mau kembali?&#8221; tanya Teguh masih menahan emosinya.</p>
<p>Aisyah  menegakkan kepalanya lagi. &#8220;Aisyah yakin, Mas Yopi sayang Aisyah  seperti Aisyah sayang Mas Yopi. Mas Yopi pasti kembali untuk Aisyah.&#8221;</p>
<p>Jawaban  itu tidak memuaskan bagi Teguh. Emosinya yang sudah dekat kepermukaan  kembali meluap. Ia berdiri dari kursinya dan menggebrak meja di hadapan  putrinya. Teguh berharap Aisyah tersentak, takut karena gertakannya.  Tapi sekali lagi ia dikecewakan; tekad Aisyah seakan merubah putrinya  180 derajat dari kemarin.</p>
<p>&#8220;Baik,&#8221; kata Teguh, &#8220;kamu mau menunggu  laki-laki brengsek itu? Silahkan. Tapi jangan harap kamu bisa menunggu  dia di rumah ini! Selama kamu di rumah ini, kamu akan menuruti kata-kata  bapak!&#8221;</p>
<p>Aisyah tidak berjengit sama sekali mendengar ancaman  Teguh. Aisyah terus menatap mata ayahnya tanpa berkedip, tatapan yang  sama sekali berbeda dengan tatapan seorang anak yang menyesali  kata-katanya.</p>
<p>Tidak ada tindakan lain lagi yang terpikirkan oleh  Teguh. Meraung frustasi, Teguh mendorong kursinya keras-keras ke meja  dan keluar dari rumah. Istrinya bergegas menyusulnya.</p>
<p>&#8220;Pak, Bapak!&#8221;</p>
<p>Teguh  tidak mengindahkan istrinya. Ia terus berjalan cepat tanpa arah,  melewati berbagai orang yang tanpa menyapa. Teguh terus berjalan hingga  mencapai tepi sebuah sungai. Disana ia berhenti, sakit hati dan marah  bercampur di pikirannya. Ingin rasanya ia melompat, mengakhiri hidupnya  asalkan ia tidak perlu mengetahui nasib putrinya nanti.</p>
<p>&#8220;Pak, Pak!&#8221;</p>
<p>Istri  Teguh berhasil menyusulnya. Terengah-engah, istrinya memegang lengan  Teguh. Tapi pertahanan diri istrinya runtuh dengan segera; ia menangis  sejadi-jadinya di pelukan Teguh yang menahan air matanya.</p>
<p>&#8220;Bu, apa  salah kita sebenarnya Bu?&#8221; kata Teguh. &#8220;Apa kita salah mendidiknya?  Atau ini hukuman Tuhan karena Bapak terlalu sibuk dengan dunia?&#8221;</p>
<p>Istri  Teguh juga tidak memiliki jawaban, sama dengan dirinya sendiri. Teguh  hanya bisa mengira-ngira, tanpa tahu apa yang sebenarnya. Cobaan ini  baginya begitu berat, dan ia masih tidak mengerti kenapa ini terjadi.  Anaknya satu-satunya, yang telah ia besarkan dengan susah payah, memberi  cobaan terberat padanya. Teguh menengadahkan kepalanya, menatap langit,  dan berusaha menenangkan dirinya sekaligus istrinya.</p>
<p>Teguh  kembali ke rumah setelah istrinya berhenti menangis. Ia kembali melewati  berbagai orang tanpa menyapa sama sekali. Tetangga-tetangganya melihat  Teguh dengan pandangan heran, tetapi Teguh terus berjalan bersama  istrinya.</p>
<p>Tapi ujian belum selesai untuk Teguh. Saat ia kembali ke  rumahnya, ia melihat piring-piring telah dirapikan, meja sudah  dibersihkan, dan Aisyah tidak ada di ruangan itu. Perasaan panik  langsung merayapi Teguh. Ia tidak tahu berapa lama ia dan istrinya  keluar rumah, tetapi pasti cukup lama karena Aisyah sepertinya telah  merapikan seluruh rumah, dan kemudian menghilang.</p>
<p>Teguh langsung  berlari keluar rumah setelah memberitahu dengan terburu-buru pada  istrinya yang ikut panik. Teguh berlari di gang-gang sekitar rumahnya,  bertanya dengan tempo cepat ke orang-orang yang tadi dilewatinya tanpa  disapa. Sebagian diantara mereka tidak memperhatikan saat Aisyah lewat,  sebagian lagi menunjuk ke berbagai arah.</p>
<p>Mengikuti petunjuk  tetangga-tetangganya, Teguh terus berlari hingga ia mencapai ke kampus  itu, kampus tempat ia ingin anaknya berada. Tempat yang ia impikan bisa  menjadi tempat kuliah putrinya. Disana, ia melihat putrinya memanjat  sebuah pohon besar.</p>
<p>Berbagai pikiran mengerikan terlintas  dipikiran Teguh. Ia takut putrinya akan melakukan apa yang tadi ia  berniat lakukan. Ia takut putrinya berniat bunuh diri. Ia berlari dari  ujung jalan tanpa terpikirkan olehnya rasa lelah. Tapi Aisyah ternyata  tidak berniat gantung diri; ia turun lagi dari pohon itu. Bernafas lega,  Teguh memperlambat larinya.</p>
<p>&#8220;Aisyah!&#8221; panggil Teguh.</p>
<p>Aisyah  menoleh kepadanya. Teguh berusaha tersenyum agar Aisyah tahu ia sudah  memaafkannya. Teguh terus memperlambat larinya hingga berjalan mendekati  Aisyah.</p>
<p>Sudah hampir dekat, ketika Aisyah membalas senyumnya.  Teguh berjalan semakin dekat, ketika ia menyadari bahwa Aisyah membawa  tas ranselnya yang terisi penuh.</p>
<p>Mendadak, Aisyah berlari menjauhi Teguh.</p>
<p>&#8220;Aisyah&#8230; AISYAH!!&#8221;</p>
<p>Teguh  kembali berlari. Ia mengejar Aisyah yang lari lebih dulu darinya. Ia  terus mengejarnya ketika Aisyah memasuki gang perumahan yang rapat.</p>
<p>Teguh  tidak berhenti. Ia masuk ke gang perumahan itu. Gang antarrumah itu  begitu rapat, dan bercabang ke banyak sekali gang-gang lain. Teguh terus  berlari mengejar Aisyah yang sepertinya tahu harus kemana karena Aisyah  terus berbelok tanpa berhenti. Akhirnya setelah melalui banyak kelokan,  Teguh menghadapi gang yang kosong dan buntu.</p>
<p>Terlambat sudah.  Teguh menyesali ancamannya pada Aisyah yang tadi terlontar dari  mulutnya. Rasa lelah mulai merasukinya. Lelah karena berlari dan lelah  karena ujian ini.</p>
<p>Tidak tahu lagi harus melakukan apa, Teguh  berjalan pulang. Ia terus menangis sepanjang jalan, meratapi  kehilangannya yang lebih buruk daripada ditinggal mati. Teguh berjalan  melewati pohon tempat Aisyah tadi memanjat. Teguh melihat ke pohon itu,  berharap Aisyah meninggalkan sesuatu sebagai pesan. Dan ya, Aisyah  meninggalkan sesuatu.</p>
<p>Sebuah boneka berbentuk koala berwarna  coklat bertengger di pohon itu. Boneka itu bertengger dengan mantap di  antara batang pohon. Persis seperti koala yang sedang menunggu  pasangannya.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Kakek itu menghela  nafasnya lagi, sambil menatap istrinya yang duduk termenung dengan  pandangan kosong di bagian belakang ruangan.</p>
<p>Aku menyeruput gelas  keenam teh tawarku yang diberikan oleh kakek penjual soto bernama Pak  Teguh itu. Soto yang kupesan telah habis dua puluh menit yang sebelumnya  sambil aku mendengarkan kisah tentang putrinya. Kisah yang begitu&#8230;  aku tidak tahu kata apa yang tepat untuk mendeskripsikannya.</p>
<p>&#8220;Setelah  saya pulang, saya bingung bagaimana memberitahu istri saya,&#8221; kata Pak  Teguh. &#8220;Istri saya tidak bisa menerima kabar itu. Ia menangis  berhari-hari dan kemudian, ia hanya diam,&#8221; lanjut Pak Teguh dengan wajah  yang diliputi kesedihan.</p>
<p>&#8220;Apa&#8230; apa ada kabar dari putri Bapak?&#8221; Aku memberanikan diri bertanya.</p>
<p>Pak  Teguh menggelengkan kepalanya. &#8220;Tidak ada,&#8221; katanya. &#8220;Kami tidak pernah  pindah rumah dan saya selalu menolak ditugaskan ke luar kota setelah  kejadian itu. Saya berharap akan datang kabar tentang Aisyah. Apapun  itu.&#8221;</p>
<p>Aku melihat mata Pak Teguh berkaca-kaca. &#8220;Kabar itu belum  pernah datang. Tapi saya yakin suatu hari akan ada kabar dan Aisyah akan  kembali, seperti Aisyah yakin kekasihnya pasti kembali.&#8221;</p>
<p>Aku  tidak tahu kata-kata penghiburan apa yang perlu kuucapkan saat itu.  Kejadian itu sudah begitu lama, tetapi Pak Teguh sepertinya hidup dari  harapan akan datangnya kabar dan kembalinya Aisyah. Saat itu aku  menyadari, walaupun dengan kesulitan-kesulitan yang begitu rupa,  kerumitan hidup sendiri di kota orang, ujian-ujian kuliah yang  melelahkan, aku bersyukur tidak perlu melakukan semuanya tanpa  memutuskan hubungan dengan keluargaku di kampung halaman.</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>Berbagai  kisah berbeda diceritakan oleh penduduk sekitar tentang asal mula  boneka itu. Semuanya sama sekali tidak berkaitan, dan unsur mistis  meliputi sebagian besar diantaranya. Seandainya aku tidak pernah  mendengar kisah dari Pak Teguh, mungkin aku juga akan menganggapnya  boneka terkutuk yang harus dijauhi.</p>
<p>Sekarang aku duduk di bawah  tenda terpal di depan gerobak penjual batagor untuk sarapan. Tidak  sarapan sebelum kuliah sama saja bunuh diri; kepala nyut-nyutan dan  perut keroncongan. Walaupun sekarang tidak ada jadwal kuliah, tradisi  ini tetap kupertahankan. Di ujung pandanganku, boneka koala itu masih  bertengger di pohonnya.</p>
<p>Aku tidak pernah menceritakan kembali  kisah boneka itu ke orang lain. Aku tidak mau repot-repot. Kisah ini  pasti terdengar terlalu klasik di telinga mereka yang sudah terlalu  sering mendengar versi mistisnya. Kisah akan terdengar seperti  dibuat-buat kalau tidak didengar langsung dari satu-satunya saksi hidup  yang masih bisa menceritakannya. Akhirnya, sampai aku hampir diwisuda  sekarang ini, tidak ada satupun yang pernah mendengar kisahnya dari  mulutku.</p>
<p>&#8220;Fadli, kan?&#8221;</p>
<p>Seseorang menyapaku. Aku menoleh ke sumber suara, &#8220;Eh, Pak!&#8221; kataku. &#8220;Makan dulu, Pak!&#8221;</p>
<p>Salah  satu dosen kuliahku menghampiri meja kursi tempatku makan. Dia kemudian  duduk di depanku. Tas ranselnya ditaruh di sebelahnya ketika ia memulai  pembicaraan lagi.</p>
<p>&#8220;Wah, selamat ya, bisa berhasil jadi lulusan  terbaik tahun ini,&#8221; katanya sambil menyalamiku. &#8220;Saat saya pertama lihat  kamu di kelas, saya sudah yakin kamu yang terbaik, loh!&#8221; lanjutnya  dengan nada basa-basi yang kentara.</p>
<p>&#8220;Ah, masa sih, Pak? Terima kasih banyak, Pak!&#8221; kataku tidak kalah berbasa-basi.</p>
<p>Dosenku itu memesan batagor juga untuk dibungkus. &#8220;Kan tinggal nunggu tanggal wisuda, kan? Ada urusan lain datang ke kampus?&#8221;</p>
<p>Aku  nyengir, &#8220;Maklum, Pak. Orang baru merasa akan kehilangan ketika sudah  ia sudah pasti akan meninggalkannya.&#8221; jawabku sebijak mungkin.</p>
<p>&#8220;Oh,&#8221; katanya, &#8220;saya kira kamu mau bawa pulang boneka koalanya.&#8221;</p>
<p>Aku tersedak, tertawa. Kemudian aku langsung minum banyak-banyak; tersedak kuah kacang itu menyakitkan.</p>
<p>Dosenku tertawa melihatku yang tersedak. &#8220;Kamu sering dengar cerita tentang boneka itu, kan?&#8221; tanyanya.</p>
<p>Aku  mengangguk, &#8220;Sering, Pak. Macam-macam pula. Ada yang bilang itu punya  anak kecil yang kecelakaan, bahkan ada yang bilang itu sebenarnya anak  yang dikutuk ibunya karena durhaka, menolak pergi ke pasar saat beras  habis!&#8221;</p>
<p>Kami tertawa terbahak-bahak, walaupun leluconku sebenarnya  tidak lucu sama sekali menurutku. Setelah tawa reda, aku kembali  memakan batagorku.</p>
<p>Dosenku ikut memandangi boneka koala di atas  pohon itu. Pandangannya seperti orang yang sedang mengenang masa lalu;  kosong tapi terfokus. Setelah beberapa lama dalam diam, ia kembali  membuka pembicaraan.</p>
<p>&#8220;Sejak saya mulai mengajar tahun lalu, boneka itu selalu mengingatkan saya pada teman saya dulu waktu kuliah.&#8221;</p>
<p>&#8220;Boneka itu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya,&#8221; katanya. Ia kemudian menghela nafas, seakan ada yang disesalinya. &#8220;Entah kemana dia sekarang&#8230;.&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak dicari saja, Pak?&#8221; tanyaku.</p>
<p>Ia menundukkan kepalanya, &#8220;Saya masih malu, soalnya saya pernah melakukan kesalahan fatal padanya.&#8221;</p>
<p>Saat  itu, si penjual batagor menyodorkan pesanan dosenku. Dengan segera, ia  langsung mengambil ranselnya dan mengeluarkan uang sepuluhribuan dari  kantong depannya. Setelah menerima kembalikan, ia berdiri dan keluar  dari tenda.</p>
<p>&#8220;Saya duluan, ya. Sekali lagi selamat atas prestasi kamu, Fadli!&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Iya, terima kasih, pak!&#8221; jawabku.</p>
<p>Aku  kembali menghadapi mangkok berisi batagorku yang sudah hampir habis,  ketika terlihat olehku ada benda lain diantara botol kecap dan botol  sambal. Sebuah ponsel tipe lama warna hitam tergeletak disitu. Hiasan  gantungan ponsel berbentuk koala berwarna coklat yang bertengger di  pohon memberitahuku bahwa itu milik dosenku. Aku buru-buru menghabiskan  batagorku, membayar dengan uang pas, dan mengejar dosenku ke dalam  kampus.</p>
<p>&#8220;Pak! Pak Yopi!&#8221;<br />
<hr />
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/cerpen-boneka-koala-di-atas-pohon/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tribute to My Classmate &#8211; Di Saat Terakhir</title>
		<link>http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/di-saat-terakhir/</link>
		<comments>http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/di-saat-terakhir/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 May 2010 08:39:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Penguin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[akhir]]></category>
		<category><![CDATA[ujian]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.rumahpenguin.web.id/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[<a href="http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/di-saat-terakhir/" title="Tribute to My Classmate - Di Saat Terakhir"></a>{cerpen ini juga diposting di http://www.kemudian.com/node/241690 } Jam di handphone-ku telah menunjukan pukul setengah empat sore, tapi aku masih belum keluar dari ruangan kelas. Tidak hanya diriku, tapi beberapa rekan sekelasku masih berada di dalam. Banyak sekali yang mereka lakukan, &#8230;<p class="read-more"><a href="http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/di-saat-terakhir/">Read more &#187;</a></p>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<a href="http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/di-saat-terakhir/" title="Tribute to My Classmate - Di Saat Terakhir"></a><p><em>{cerpen ini juga diposting di <a href="http://www.kemudian.com/node/241690">http://www.kemudian.com/node/241690</a> }</em></p>
<p>Jam di handphone-ku telah menunjukan pukul setengah empat sore, tapi aku  masih belum keluar dari ruangan kelas. Tidak hanya diriku, tapi  beberapa rekan sekelasku masih berada di dalam. Banyak sekali yang  mereka lakukan, seperti membereskan posisi kursi dan meja, mematikan  lampu dan AC, dan beberapa mengobrol. Aku sendiri sibuk membersihkan  loker yang telah tiga tahun kupakai.<span id="more-19"></span></p>
<div style="display: block;">
<p>Ini adalah hari  terakhir kami berada di kelas ini. Yah&#8230; tidak benar-benar terakhir,  tapi hari terakhir kami belajar di kelas ini secara formal. Sudah tidak  ada lagi guru yang akan mengajar kami secara formal di ruangan ini.  Mereka semua, dimulai dari guru Matematika hingga Fisika, telah  mengucapkan doa-doa dan harapan-harapan mereka pada kami.</p>
<p>Tentu  saja, ada acara foto-foto.</p>
<p>Sekarang, sebenarnya sudah tidak ada  lagi yang perlu kami lakukan di sini. Tetapi, kami masih menikmati  saat-saat terakhir kami sebagai penghuni kelas ini. Bagi siswa lain,  mungkin hari terakhir ini sama saja dengan hari terakhir setiap  semesternya, tapi tidak bagi kami. Kami, setelah melalui seleksi ketat  yang mencakup ujian tertulis dan wawancara, dikelompokkan dalam satu  kelas, kelas berstandar Internasional.</p>
<p>Aku ingat, masih cukup  jelas, saat-saat menjelang seleksi tertulis tiga tahun lalu. Saat itu  aku lupa membawa papan alas. Karena rumahku dekat, aku pulang untuk  mengambilnya. Seorang temanku ikut karena ia ingin tahu rumahku.</p>
<p>Pada  saat aku masuk ke dalam kamar untuk mengambil papan alas, aku mendengar  gonggongan anjing. Aku segera berlari keluar karena takut terjadi  apa-apa. Diluar, aku melihat tiga ekor anjing yang biasa berkumpul di  depan teras rumah sedang mengonggong ke arah lain. Aku cari temanku,  tapi tidak kutemukan. Ternyata, ia sedang bersembunyi di rumah tetangga  sebelah, ketakutan karena dikejar oleh anjing-anjing tadi.</p>
<p>&#8220;Eh!  Kok anjing kamu nggak dirantai?&#8221; katanya kesal diperjalanan kembali ke  sekolah.</p>
<p>&#8220;Anjing siapa? Itu bukan peliharaan keluargaku, kok! Cuma  bapakku sering ngasih mereka makan.&#8221;</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya tahu  lah&#8230; perlu juga kita punya perlindungan dari orang-orang yang berniat  tidak baik.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terus kenapa aku digonggongin?&#8221;</p>
<p>Aku menatapnya  heran. &#8220;Kamu nggak tahu? tampangmu kan tampang buron!!&#8221;</p>
<p>Aku  tersenyum sendiri mengingat ekspresi temanku waktu itu.</p>
<p>Aku  memasukkan kuas-kuas, cat air, dan beberapa kertas dobel folio ke dalam  tas. Tumpukan kertas folio ini dulu kujual di kelas ini. Maklum, karena  kelas kami berada di lantai tiga, banyak dari kami yang merasa malas  untuk turun kalau hanya perlu membeli kertas dan bolpoin. Melihat  peluang itu, aku membeli beberapa rim kertas dobel folio dan lusinan  bolpoin untuk dijual.</p>
<p>Sebenarnya, ide itu tidak orisinil dari  kepalaku. Waktu itu, seorang temanku menjual gorengan buatan ibunya di  kelas. Setiap hari dagangannya laku keras, karena seperti yang kusebut  tadi, banyak dari kami yang merasa malas naik-turun tangga. Aku sendiri  menyukai risolesnya, yang selain murah juga sangat enak. Sayangnya,  temanku itu berhenti menjualnya waktu kami kelas dua, dan seorang  temanku yang lain menggantikan posisinya sebagai pedagang makanan.</p>
<p>Aku  pernah bertanya kenapa dia berhenti berjualan. Dia bilang, dengan  sangat jujur dan sebenarnya agak menusuk, &#8220;Habis rugi terus sih! Banyak  yang nggak bayar!&#8221;. Aku berpikir, ya pasti saja. Kalau kita berjualan  mengandalkan kejujuran pelanggan, maka keuntungan hampir pasti kalah  banyak dengan kerugian. Aku membandingkan dengan kantin kejujuran di  sekolah ini, yang juga hampir tidak pernah untung setiap bulannya.</p>
<p>Hmmm&#8230;  bagaimanapun juga, banyak sekali orang-orang potensi bisnis yang  kutemukan di kelas ini.</p>
<p>Aku menutup resleting tas ranselku dan  berjalan keluar. Aku ingat, tiga tahun lalu keadaan kelas ini sangat  berbeda. Tidak ada AC, tidak ada loker, tidak ada karpet, dan tidak ada  rak sepatu. Semua fasilitas itu baru dilengkapi setelah dua bulan kami  belajar disini. Maklum, kelas kami adalah kelas Internasional perdana di  sekolah ini. Jadi belum ada persiapan dari tahun-tahun sebelumnya.</p>
<p>&#8220;Pak,  nanti kelas ini akan dilengkapi apa saja?&#8221; tanya salah satu orang tua  murid saat pertemuan.</p>
<p>&#8220;Oh, banyak!&#8221; kata kepala sekolahku. &#8220;Nanti  kita akan melengkapi dengan karpet, rak sepatu, AC, bla bla bla bla bla  bla&#8221; yang sangat panjang dan terasa seakan tidak akan terealisasi.</p>
<p>Dalam  hati aku bertanya, bagaimana dengan guru-gurunya?</p>
<p>Kami tahu,  guru-guru tidak semuanya mau mengajar disini. Baru saja guru Fisika-ku  mengatakan &#8220;Banyak guru yang takut mengajar di kelas ini, takut kalah  pintar dengan siswanya!&#8221;. Tetapi, kami tidak langsung merasa senang,  apalagi setelah beliau melanjutkan &#8220;Padahal, bagi ibu siswa disini tidak  sehebat itu.&#8221;</p>
<p>Ha ha. Pujian ibu sangat mengena di hati.</p>
<p>Teringat  guru Fisika-ku, aku jadi ingat juga saat-saat terakhir dengan guru  Biologi, yang juga merupakan wali kelas kami. Sebenarnya, ibu itu nyaris  tidak bicara apa-apa. Ibu itu membagikan beberapa helai kertas untuk  kami menuliskan pesan dan kesan. Saat itu, aku memilih untuk menundukkan  kepalaku karena beliau benar-benar terlihat ingin menangis.</p>
<p>&#8220;Jujur,&#8221;  kata beliau setelah beberapa saat diam &#8220;sudah puluhan tahun ibu  mengajar, baru kali ini ibu benar-benar merasa akan kehilangan&#8221;. Beliau  terus saja menyusun tumpukan kertas yang sebenarnya sudah rapi sambil  melanjutkan &#8220;Bagaimanapun juga, ibu sudah jadi wali kelas kalian selama  tiga tahun&#8221;.</p>
<p>Aku tahu banyak dari kami yang juga ingin ikut  menangis, tetapi karena gengsi, tidak ada satu pun yang melakukannya.</p>
<p>Aku  keluar dari kelas, mengambil sepatu dari rak dan mengenakannya. Diluar,  beberapa teman-temanku ribut karena mau berfoto untuk kenang-kenangan.  Awalnya, mereka berfoto asal-asalan. Kemudian, mereka memaksa untuk  berfoto dengan pasangan di kelas. Aku hanya tertawa, mengingat aku tidak  memiliki ikatan kasih bagai sepasang merpati dengan siapapun di kelas  ini.</p>
<p>&#8220;Ayo sini! Foto-foto!&#8221;</p>
<p>&#8220;ee&#8230;. udah tuh!&#8221;</p>
<p>&#8220;Belum!  Sini! Ayo sini!&#8221;</p>
<p>Mereka berfoto (walaupun beberapa menolak)  dengan pasangan masing-masing. Satu dari mereka memang pasangan merpati  yang sesungguhnya, sementara pasangan yang lain hanya untuk bahan  bercandaan dan senang-senang. Salah satu dari mereka, pasangan yang  dijodoh-jodohkan, sebenarnya memiliki penggemar rahasia lain. Aku tahu  itu. Berat sebenarnya bagiku karena melihat seorang temanku tertawa  menutupi kesedihannya berpisah dengan (mungkin) cinta pertamanya, yang  tidak pernah ternyatakan.</p>
<p>&#8220;Tinggal beberapa hari lagi, loh.&#8221;  pernah suatu saat kukatakan itu padanya.</p>
<p>&#8220;Kalau kamu di posisiku,  apa kamu mau nyatain perasaan kamu?&#8221;</p>
<p>Aku diam. Karena aku tidak  mungkin merasakan apa yang dirasakannya karena kami berbeda gender.  Susah sekali bagiku membayangkan apa yang dirasakan wanita yang menahan  perasaanya selama bertahun-tahun.</p>
<p>Oh, cinta SMA. Kata orang, itu  hanya cinta monyet. Hmm&#8230; apakah perasaan cinta para monyet pernah  disebut sebagai cinta manusia? Entah ya.</p>
<p>Aku sendiri memaksa  seorang temanku untuk difoto bersamaku. Dia mungkin salah satu teman  yang paling malas difoto. Bahkan saat aku berusaha mengangkat bahunya,  ia berusaha lari. Tetapi, kami tertawa lepas setelahnya. Persahabatan  itu indah, kan?</p>
<p>Ya, sangat indah. Tapi keretakan dalam hubungan  persahabatan kami sekelas bukannya tidak pernah rusak. Malah, bisa  dikatakan sering kali rusak karena masalah sepele. Aku ingat waktu kelas  satu, aku mendengar ada seorang temanku tidak mau bicara dengan  temannya hanya karena masalah kecil. Sebuat saja dia si Fulanah</p>
<p>&#8220;Ya  ampun&#8230; gitu aja masa dimasalahin?&#8221; kataku heran waktu muncul  kesempatan untuk membahasnya.</p>
<p>Temanku itu menganggukkan kepalanya  &#8220;Ho oh! Gara-gara itu, si Fulanah gak mau lagi jalan bareng dengan dia!&#8221;</p>
<p>Aku  benar-benar tercengang waktu mendengar problem yang &#8216;berat&#8217; menurut si  Fulanah ini. Mau tahu apa masalahnya? Ditinggal pergi oleh temannya saat  sedang BAB di wc umum!</p>
<p>Huh, terpaksa ngegosip deh cuma untuk tahu  masalah sepele ini.</p>
<p>Tapi, kedekatan kami juga tidak terkalahkan.  Beberapa dari kami bahkan mengetahui keadaan keluarga yang lain. Yang  baik-baik saja, banyak masalah, broken home, dimanjakan, bahkan yang  nyaris tidak diperhatikan. Bukan hanya itu, hampir semua cerita pribadi  penghuni di kelas ini diketahui.</p>
<p>Yah&#8230; tidak semuanya. Rahasia  pribadi yang terbuka di ruangan kelas kami ini sama banyaknya dengan  rahasia yang tetap tertutup di hati kami masing-masing.</p>
<p>Pernah ada  seorang teman yang kutanyakan alasannya mengapa ia tidak mau masuk UI.  &#8220;Alasan aku nggak mau masuk UI, terlalu pribadi. Jadi maaf kalau aku  nggak cerita&#8221; katanya.</p>
<p>&#8220;Kenapa? terlalu berat?&#8221;</p>
<p>&#8220;Iya, berat  banget. Dan aku yakin nggak ada orang yang ngalamin.&#8221;</p>
<p>&#8220;Berarti&#8230;.&#8221;  kataku heran &#8220;kamu bukan orang, dong?&#8221;</p>
<p>&#8220;Eee&#8230; Ya yai, yo!&#8221;</p>
<p>Pada  akhirnya, ia bercerita juga padaku dan seorang temanku yang lain. Tapi  memang masalah yang dimilikinya terlalu berat, sehingga aku tidak  menemukan pemecahannya sampai sekarang. Satu-satunya penghiburan yang  bisa kukatakan, adalah masih ada orang lain yang mengalami hal yang  lebih parah darinya, dan orang itu masih hidup sampai sekarang.</p>
<p>Itu  hanya salah satunya. Masih banyak rahasia yang tidak terbongkar di  dalam kelas ini. Rahasia-rahasia yang sangat dalam dan gelap, yang  bahkan guru paling berpengalaman sekalipun tidak akan mampu bahkan  sekedar memberi secercah harapan untuk mengatasinya. Hanya diskusi  antara kami, para remaja, yang cukup ampuh.</p>
<p>Aku jadi mengingat  beberapa ajang diskusi yang dilakukan aku dan teman-temanku. Mestinya,  sebagai remaja kami lebih banyak mendiskusikan masalah ringan. Minimal  masalah perasaan. Tapi ini lain. Kami justru lebih sering mendiskusikan  masalah hukum, pemerintahan, dan berbagai topik berat lainnya.</p>
<p>&#8220;Menurut  kamu kenapa lebih baik calon presiden itu berasal dari kalangan  militer?&#8221; tanya seorang temanku.</p>
<p>&#8220;Yah, gimana juga, orang-orang  militer sudah terbiasa dengan disiplin dan sistem kepemimpinan. Beda  dengan sipil yang kebanyakan awam.&#8221;</p>
<p>&#8220;Terus menurutmu dwi fungsi  ABRI itu bagus?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ya, dong!&#8221;</p>
<p>&#8220;Wah, kalau ada orang-orang  anti-orba denger kamu ngomong begitu, gimana tuh?&#8221;</p>
<p>&#8220;&#8230;&#8230;..  tolong cari mayatku nanti.&#8221;</p>
<p>Ha ha.</p>
<p>Kami semua turun bersama  ke lapangan sekolah. Tertawa-tawa, menikmati hari terakhir kami sebagai  siswa formal disini. Kami melintasi lapangan sekolah, lapangan tempat  guru bagian kesiswaan sering memberikan hukuman kepada siswa yang datang  terlambat, tidak memakai kelengkapan siswa, atau cabut. Aku sendiri  dulu sering terlambat, padahal rumahku sangat dekat.</p>
<p>&#8220;Kamu!&#8221; kata  guru itu pada saat aku terlambat pada suatu hari. &#8220;Rumah kamu dekat!  Kenapa kamu terlambat?&#8221;</p>
<p>Aku menolak menundukkan kepalaku, jadi aku  menjawab: &#8220;Sindrom rumah dekat, pak; makin dekat tempat tinggal makin  lambat dia berangkat!&#8221;</p>
<p>Jawaban yang menurutku bagus.</p>
<p>Aku  memandangi seluruh sudut sekolah ini. Suatu saat nanti di tahun-tahun  mendatang, aku akan kembali ke tempat ini sebagai seseorang yang sukses.  Mungkin hanya sebagai tamu, atau mungkin sebagai guru. Perasaanku  mengatakan, semua temanku melakukan hal yang sama; bersumpah akan  kembali lagi ke sekolah ini sebagai manusia yang sesungguhnya. Kami akan  menunjukkan pada orang-orang yang telah mendidik kami, bahwa yang telah  mereka lakukan tidaklah sia-sia.</p>
<p>Gerbang sekolah sudah dekat  ketika air turun dari langit. Hujan tiba. Ia tiba tepat pada saat aku  tidak bisa lagi mengingat hal lain tentang kelas dan sekolahku yang  kutempati selama tiga tahun. Seakan hujan turun untuk menghapus sisa  jejak kami di sekolah ini. Bagiku, hujan ini juga turun untuk mewakili  raungan tangisku yang tidak lagi bersuara dan berair.</p>
<p>&#8220;Dah! Sampai  ketemu lagi!&#8221; teriak salah satu temanku.</p>
<p>&#8220;Ya!&#8221; sambil ku balas  lambaiannya.</p>
<p>Aku memandangi mereka yang berjalan ke arah  pemberhentian angkutan umum. Ini adalah saat-saat terakhir kami bisa  melakukan sesuatu secara bersama. Ujian akhir sudah dekat, dan ujian  hidup yang sesungguhnya telah terlihat di depan mata. Pada saat itu,  kami akan melakukan segala sesuatunya secara individual.</p>
<p><em>*Senin,  15 Maret 2010*</em></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.rumahpenguin.web.id/cerpen/di-saat-terakhir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
<!-- WP Super Cache is installed but broken. The path to wp-cache-phase1.php in wp-content/advanced-cache.php must be fixed! -->
